Cari Blog Ini

Info-bendera-putih

Info-bendera-putih

Info-bendera-putih

Info-bendera-putih

Info-bendera-putih

Sabtu, 04 Maret 2017

Cara Memaknai Kunjungan Salman Ala Jokowi



Nampaknya, setidaknya dua pekan ini wacana di negeri kita akan dihiasi tentang kunjungan Raja Salman ke Indonesia, dengan berbagai sudut dan pernik. Kunjungannya sendiri selama 9 hari, yakni dari tanggal 1-9 Maret 2017. Ditambah dengan beberapa hari sebelum dan sesudahnya, bahasan mengenai kunjungan bersejarah ini masih menarik diulas. Sekalipun ada banyak tema lain yang menarik dan seksi, namun tema ini juga sayang untuk dilewatkan, mumpung ada konteksnya.
Sejak kabar akan datangnya Raja Salman dan 1500 rombongan besarnya ke Indonesia beberapa hari sebelum Hari H hingga tanggal 3 Maret, saya masih belum berencana menulis. Barulah setelah kunjungan tiga harinya di Jakarta selesai, di mana hal-hal penting berkaitan dengan pembicaraan dan tugas-tugas kenegaraan berakhir, saya ingin ikut nimbrung meninggalkan catatan tentang ini.
Adapun rombongan mewah itu, sekarang silahkan mereka menikmati liburan di Pulau Dewata Bali. Semoga mereka sudah cukup tahu, bahwa Indonesia bukan hanya Bali. Dan keindahan Bali hanya sedikit saja dari sejuta pesona Indonesia yang tidak ada di negeri padang pasir. Jadi, kalau mau menikmati dan mengerti Indonesia, sangat banyak destinasi yang menggoda. Orang-orang kebanyakan seperti saya tidak mempunyai cukup biaya untuk bisa menikmati ragam destinasi itu, tapi bagi mereka mudah saja. Tinggal maunya. Beda dengan orang-orang seperti saya, bahkan Bali pun baru bisa sekadar dilihat di media atau didengar saja.
Mengenai kunjungan Raja Saudi saat ini, saya melihat bahwa bangsa Indonesia setidaknya telah terbagi menjadi tiga bagian. Mereka ada, dan bisa kita dengar, lihat atau saksikan. Komentar dan pendapat mereka di medsos bisa kita tangkap dan pahami, dan sekaligus mencerminkan siapa mereka.
Kelompok yang pertama, saya sebut sebagai para pemuja Salman. Mereka adalah kalangan yang di medsos atau obrolan langsung, banyak menulis, membagikan atau menceritakan berita sanjungan yang aneh-aneh dan irasional. Misalnya mereka menyebut bahwa Raja Salman datang ke Indonesia untuk menolong umat Islam di Indonesia yang sedang dizalimi oleh pemerintah. Mereka berpikir bahwa pemerintahan Jokowi bertindak sewenang-wenang kepada umat Islam (tentu saja ini pendapat yang ngawur), sehingga Salman datang ke sini untuk “menekan” Jokowi menghentikan kezaliman (dalam bayangan mereka). Kalangan ini sampai ada yang bilang, bahwa Raja Salman lebih tahu kondisi umat Islam di Indonesia ketimbang umat Islam di Indonesia sendiri (coba simak, apa pikiran ini tidak aneh?)
Kalangan ini juga ada yang menyebut bahwa Raja Saudi datang ke sini untuk membebaskan Indonesia dari beban utang kepada Cina. Kata mereka, Raja datang membawa uang sangat banyak untuk membantu Indonesia membayar utang-utangnya kepada Tiongkok yang komunis, tanpa bunga dan tanpa syarat ini-itu. Berbeda dengan Cina, di mana Cina datang ke Indonesia dengan syarat ini itu dan lain sebagainya.
Pikiran ini jelas saja irasional, ilusif, tidak berdasar, dan bikin orang tertawa. Dari mana ceritanya sampai begitu. Lha, Saudi datang ke sini mau berinvestasi kok, ya tentu saja tanpa bunga, tapi nanti ia akan mendapatkan untung dari hasil investasi (istitsmar) itu. Namanya juga bisnis. Negara-negara lain yang berinvestasi, ya sama begitu juga. Bunga hanya ada dalam transaksi pinjaman. Peran Cina dalam proyek Speed Train Jakarta-Bandung senilai puluhan trilyun itu, bersifat investasi, bukan pinjaman. Jadi sama saja dengan rencana Saudi yang sekarang hendak berinvestasi.
Lagian, dalam kondisi saat ini, Saudi mau “membantu” negara-negara lain, kalau bukan karena landasan bisnis, bagaimana bisa. Seperti kita tahu, Saudi sekarang sedang kesulitan cashflow, sampai pada tahun 2016 yang lalu meminjam uang ratusan milyar dolar untuk menutupi APBN-nya. Apalagi banyak analisa yang menyebutkan bahwa Raja melakukan roadshow ke berbagai negara Asia Tenggara dan Timur sekarang adalah dalam rangka menawarkan divestasi 5 % saham Saudi Aramco.
Yang tidak kalah menggelikan, kalangan ini bahkan ada yang berilusi bahwa Raja mau menemui Imam Besar dari sebuah ormas berlabel Islam. Kabarnya Imam Besar ini diundang oleh DPR untuk turut mendengar pidato Salman di gedung DPR. Namun kabarnya tidak jadi datang, entah apa alasannya. Bahkan dalam pertemuan khusus Salman dengan para pimpinan ormas-ormas Islam pun, nama Imam Besar itu tidak termasuk dalam undangan.
Kalangan pertama ini juga menganggap Saudi dan rajanya sebagai representasi Islam. Alasan yang paling mudah mereka pahami adalah jelas karena raja ini orang Arab yang menguasai sebagian negeri Arab yang ada Tanah Haramnya, Mekkah dan Madinah, negeri yang ada Baitullah-nya. Sedangkan kerajaan sendiri menyebut dirinya sebagai pelayan Dua Tanah Haram, Khadim al-Haramayn, yang mengurus dan mengelola ibadah haji umat Islam seluruh dunia.
Kedua, kebalikan dari kelompok yang pertama, mereka melihat Raja Salman dan kerajaannya dalam perspektif yang memperlihatkan semuanya buruk, bahkan sangat buruk. Ini sebagai akibat dari kebijakan dan tindakan yang telah Saudi lakukan, baik di kawasan Timur Tengah maupun lebih jauh lagi. Misalnya karena dukungan Saudi pada ISIS dan para pemberontak Suriah serta ikut intervensi terhadap kedaulatan Suriah hingga Suriah kini porak poranda, agresi kepada Yaman yang sekarang masih berlangsung, “permusuhannya” terhadap Iran, sikapnya terhadap Israel, dan lain sebagainya. Termasuk bagaimana Saudi memperlakukan Tanah Haram yang dianggap justru merusak kesucian dan telah menghancurkan sejarah agungnya.
Bagi kalangan yang kedua ini, Raja Saudi dan pemerintahannya bukanlah Khadim al-Haramayn (Pelayan Dua Tanah Haram). Melainkan sebagai Hadim al-Haramayn, Penghancur Dua Tanah Haram. Mengapa disebut demikian, karena rezim Saudi telah menghancurkan banyak peninggalan sejarah Islam yang berkaitan dengan Nabi Saw serta para sahabat dan orang-orang dekat beliau. Banyak peninggalan Islam yang dirobohkan pemerintahan Saudi, dan diganti dengan bangunan-bangunan megah dan mewah. Bagi kalangan ini, Kerajaan Saudi telah menghancurkan banyak peninggalan bersejarah Islam, kemudian membangun istana-istana raja dan para pangeran.
Kalangan ini juga menyebutkan bahwa Kerajaan Saudi bukanlah representasi dari Islam, apalagi Islam yang dibawakan oleh Nabi.  Yang ada adalah, pemerintahan ini telah membid’ah-bid’ahkan banyak ajaran Islam, baik langsung maupun melalui pihak lain di negara-negara lain. Sebagai Kerajaan yang berpaham Wahhabi, pemerintahan Saudi telah banyak melalukan berbagai kebijakan di Tanah Suci yang sebenarnya ditentang oleh umat Islam lain dari kalangan Ahlussunnah Waljamaah dan Syiah.
Pernah santer kabar bahwa pihak kerajaan hendak memindahkan Makam Mulia Nabi Saw dari tempatnya sekarang. Di Indonesia, yang santer menentang rencana ini adalah NU. Sekalipun kabar isu ini kemudian hilang, namun kekhawatiran umat Islam dunia terhadap tindakan Saudi yang berkaitan dengan sejarah Islam tetap sangat beralasan. Karena sebelumnya kerajaan juga telah menghilangkan jejak-jejak sejarah dan peninggalan penting Islam lainnya. Dan memang sudah seharusnya umat Islam sedunia memperhatikan kebijakan-kebjijakan Saudi di Tanah Suci ini.
Puluhan tahun yang lalu, pasca sukses besar revolusi tanpa darah di Iran, Imam Khomeini Pemimpin Besar Iran pernah mewacanakan agar Tanah Haram dikelola oleh otoritas umat Islam Dunia, dan bukan oleh sebuah negara tertentu. Di antara tujuannya adalah agar semua kepentingan Dunia Islam diakomodasi dalam kebijakan Tanah Suci, dan memberikan dampak positif yang meluas bagi umat Islam seluruh dunia.
Tanah Suci peninggalan Nabi adalah milik umat Islam seluruh dunia. Karenanya ia mesti dikelola oleh umat Islam seluruh dunia juga. Teknisnya bisa dikelola oleh organisasi semacam OKI atau otoritas lain yang disepakati umat Islam dunia. Di antara pemimpin Muslim dunia yang menyetujui gagasan ini adalah Muammar Khadafi, Presiden Libya yang digulingkan AS beberapa tahun lalu.
Selain itu, gaya hidup mewah yang diperlihatkan keluarga kerajaan juga menjadi alasan lain yang mempertanyakan apakah pantas mereka merepresentasikan Islam. Belum lagi kita mendengar kabar-kabar tentang kehidupan para pangeran dan putri kerajaan di luar sana.
Kalangan ketiga, adalah kalangan yang mencoba melihat kunjungan Salman ke Indonesia ini dengan kacamata realistis dan pragmatis. Karena Raja Saudi ini datang dengan tujuan bisnis dan politis, maka kunjungannya juga mesti dilihat dari kacamata bisnis dan politis. Pandangan inilah yang saya lihat menjadi pegangan Pemerintahan Joko Widodo. Karenanya kita lihat, bagaimana pemerintah menandatangani banyak MOU dengan Saudi. Setidaknya ada 11 MOU yang ditandatangani oleh Saudi di Indonesia. Untuk cara pandang yang terakhir ini, insyallah akan saya tuliskan dalam artikel lain, dengan judul “Salman Datang, Jokowi Menang. Saudi Berkunjung, Indonesia Untung.” Silakan mampir lagi.
Dan cara pandang ketiga inilah yang merupakan cara Jokowi memaknai kunjungan bersejarah Raja Salman. Sebagai presiden yang sudah mendapat banyak informasi, tentunya Pak Jokowi cukup mengerti dua cara pandang sebelumnya yang beredar di masyarakat. Namun sebagai presiden yang memiliki visi dan program yang jelas, dengan slogan kerja kerja kerja, cara pandang realistis dan pragmatis itulah yang seharusnya Indonesia ambil dalam melihat kunjungan Raja Salman.
Inilah ala Jokowi…

Jumat, 03 Maret 2017

Arab Asli Saja ‘Gak Gitu-Gitu Amat’ Kok

Tahun 2015 Raja Salman mendapat penghargaan atas kontribusinya dalam menyebarkan Qur’an. Beliau didaulat sebagai “Islamic Personality of the Year” oleh Holy Qur’an International Memorization Organization, yang berafiliasi dengan Muslim World League (MWL) Makkah-Based
Tahun 2017 ini, Raja Salman mengatakan bahwa memelihara identitas Arab dan Islam adalah prioritas utama bagi pihak kerajaan. Beliau juga menambahkan ” Mempromosikan nilai-nilai hidup berdampingan dalam keragaman, kebersamaan dan patriotisme serta memelihara identitas Arab dan Islam termasuk juga warisan, budaya, yang mengakar dengan kuat merupakan prioritas utaman kami (kerajaan).
Jadi sebagai Raja di Kerajaan Saudi Arabia, Raja Salman sudah  tentu dapat kita anggap sebagai representasi budaya Arab dan bagi sebagian orang juga sebagai representasi Islam. Bahkan beliau berpidato bahwa menjaga budaya Arab dan Islam adalah prioritas. Jadi kalau mau lihat seperti apa itu Arab dan Islam, ya lihat saja Raja Salman, kurang lebih begitulah. Apalagi penduduk bumi datar kerap menyanjung Arab dan Raja Salman, memuji beliau setinggi langit tapi merendahkan Jokowi, Presidennya sendiri.
Nah lucunya di Indonesia banyak sekali Arab KW, muka melayu tapi baju gurun pasir ya itu salah  kostum namanya. Belum lagi penggunaan panggilan ikhwan, akhwat, ukhti, akhi dan ana. Sebenarnya sih kalau mau mengikuti budaya luar ya silahkan-silahkan saja tapi yang bikin “gemes biji” itu adalah mereka merasa paling Islami kalau sudah kearab-araban. Pengikutnya pun menilai dari penampilan, bersorban, berjubah, bisa kutip-kutip ayat sedikit langsung disebut ulama. Udah gitu banyak juga lebih “Arab” dari orang Arab itu sendiri.
Lalu bagaimana Raja Salman yang jelas-jelas asli Arab? Ternyata berbeda, dalam pidato diatas saja dapat kita lihat bagaimana Raja Salman menekankan toleransi dan nasionalisme serta menghargai perbedaan.
Apakah pembaca Seword pria pernah mau bersalaman dengan seorang wanita lalu si wanita tersebut menarik tangannya, enggan bersentuhan? Bagi yang pernah pasti jadi awkward moment tentunya, pasti bingung mesti gimana. Memang ada beberapa kelompok yang menganggap bersentuhan dengan lawan jenis yang bukan muhrimnya tidak boleh. Saya hargai pendapat mereka tapi jadi pertanyaan tentunya, kok Raja Salman mau bersentuhan dengan Puan Maharani?
Dulu jagat media sosial pernah ramai dengan pendapat seorang Tionghoa yang mualaf dan mendadak melejit jadi ustad. Tentu kita semua tahu siapa dia. Pendapat kontroversial tersebut mengharamkan selfie dan tentunya juga wefie, lah sendiri aja gak boleh apalagi rame-rame? Takabur rame-rame itu namanya. Tapi ternyata Raja Salman terlihat senang ketika ber-wefie bersama-sama Megawati dan Puan Maharani sambil berdempetan padahal bukan muhrim loh.
Tentu kita pernah lihat kaum cingkrang di tempat-tempat keramaian. Pendapat yang juga kontroversial karena sebagian umat Islam mengatakan celana tidak boleh diatas mata kaki. Celana yang dipotong diatas mata kaki mereka tafsirkan apa adanya,  langsung, plek, tanpa dilihat secara keseluruhan dan juga konteksnya. Padahal menurut beberapa ulama inti dari hadist tersebut adalah jangan sombong.
Lalu mari kita lihat bagaimana bagian bawah pakaian Raja Salman saat turun dari pesawat. Ternyata….menutup mata kaki, yang terguncang harap pegangan.
Nah yang menarik lainnya adalah jidat Raja Salman. Gak hitam, mulus banget beda sekali dengan beberapa umat Islam disini yang begitu bangga dengan jidat hitamnya karena dianggap rajin sholat. Apa Raja Salman jarang sholat? Tentu beliau rajin sholat. Jadi tanda sholat itu bukan tanda kapalan hitam dijidat mungkin tanda hitam itu adalah tanda waktunya ganti alas sholat. Selain kening Raja Salman yang mulus, jenggotnya pun dicukur rapih tidak berantakan dan terlalu panjang.
Lalu bagaimana soal hijab? Karena sudah pasti Raja Salman tidak menggunakan hijab, jadi mari kita lihat bagaimana putri-putri kerajaan Arab. Salah satunya adalah Princess Ameerah Al-Taweel, kita bisa lihat kecantikan beliau dengan penampilan santai menggunakan jeans dan t-shirt. Beliau tidak menggunakan hijab ala ninja (meminjam istilah Pak Mahfud MD). Juga saat mengenakan hijab pun terlihat santai saja, mungkin saat itu sedang ada acara keagamaan (foto kanan).
Bukti bahwa Seword bukan media opini hoax saya sertakan sumber foto diatas yang saya ambil dari  https://maldivesfinest.com/most-beautiful-woman-ever-visited-maldives. Jadi kalau bilang saya bohong silahkan protes ke sumbernya.
Waduh Ust Felix gimana nih? Ente kan sering kultwit tentang hijab yah, coba itu Putri Arab diceramahi juga, suruh follow akun ente. Mana pakai hijabnya pun bukan yang syar’i pula. Coba tawarin hijab syar’i produksi istri ente, denger-denger istri ente bisnis hijab bukan?
Dan terakhir, yang paling kontroversial bagi penduduk bumi datar. Momen paling menyakitkan para penduduk bumi datar,
Raja Salman bersalaman dengan Ahok…..
Sampai-sampai mereka tolak kenyataan tersebut dan memilih realita yang lain demi menghibur hatinya. Sama seperti menolak realita bumi itu bulat dan lebih memilih dongeng bumi itu datar hanya karena kata “hamparan”.
Apa pesannya? Ahok adalah simbol penganiaya umat Islam, Ahok adalah musuh Islam, Ahok adalah penista agama Islam. Itulah image Ahok yang ada dalam kepala penduduk bumi datar. Image yang telah ditanam sejak dulu oleh media-media tukang fitnah. Tidak mungkin Raja Salman tidak mengetahui gejolak di Indonesia, dan tidak mengetahui isu-isu tentang Ahok. Tidak mungkin beliau tidak mengetahui kasus penistaan agama yang dituduhkan kepada Ahok karena sudah menjadi wacana internasional. Kasus Ahok diliput oleh banyak media termasuk media internasional seperti Daily Mail. Jadi pasti Raja Salman tahu kasus tersebut dan tahu mengenai Ahok.
Lalu Raja Salman turun dari pesawat dan menyalami Ahok? Wow! ini adalah kode keras bagi penduduk bumi datar. Mungkin ada yang berpikiran, ah itu kan protokoler saja, atau ah Raja Salman hanya ingin menghargai saja. Lah bagaimana mungkin, beliau adalah Raja Salman “Islamic Personality of the Year, 2015″ yang menolak memukul bedug di mesjid Istiqlal karena dianggap Bid’ah. Jika Ahok beliau anggap sebagai penista Qur’an, apa mau beliau bersalaman hanya demi menghargai tuan rumah? Saya rasa tidak.
Silahkan penduduk bumi datar kejang-kejang lagi….
Setelah selesai dari kejang-kejangnya pasti mereka menuduh kami anti Arab, dan kok sekarang bela Arab? Lah sejak kapan kita anti Arab? Mana, ada tulisan yang jelas tanpa ambigu bahwa kita anti Arab? Kritik sih iya tapi anti? Lah itu Jonru sering “kritik” Jokowi, apa artinya dia juga anti Indonesia? Ya nggak lah.
Kok lalu sekarang bela Arab?
Mau bagaimana pun beliau adalah tamu dari jauh jadi harus diperlakukan dengan baik, dan itu ada dalam Islam. Lagi pula melihat impian dan dongeng-dongeng warga penduduk bumi datar hancur berantakan tentu momen yang sangat sayang untuk dilewatkan dan sayang untuk tidak dibahas beramai-ramai.

Raja Salman Memuji Motto Kerja, Kerja, Kerja Kok Situ Malah Mencela



Siapa yang tidak tahu bahwa Jokowi terkenal suka kerja. Mulai sejak menjadi Walikota Solo sampai Gubernur DKI Jakarta bahkan ketika menjadi Presiden pun Jokowi senang bekerja. Sampai-sampai motto kerja, kerja, kerja sangat populer bukan saja di Indonesia bahkan sampai ke manca negara.
Kita bisa melihat infrastruktur yang kini sedang giat-giatnya dibangun. Papua yang selama ini terkesan diabaikan oleh Pemerintah Indonesia, kini sangat diperhatikan oleh Presiden Jokowi. Kesulitan-kesulitan transportasi di Papua menyebabkan bahan-bahan pokok menjadi sangat mahal, Bahan Bakar Minyak juga melambung tinggi. Bahan-bahan bangunan seperti semen juga tidak kalah mencekik harganya, bahkan bisa berpuluh kali lipat harganya dibanding pulau Jawa. Oleh karena itu, Presiden Jokowi memerintahkan untuk membangun infrastruktur di pulau Papua.
Maka jalan Trans Papua pun mulai dikerjakan. Jalan yang dibangun menembus hutan Papua dan membelah gunung dirancang sepanjang 4.330,07 kilometer tersebut sampai akhir tahun 2016 telah selesai dikerjakan sepanjang 3.851,93 kilometer dengan menghabiskan biaya triliunan rupiah.
Bukan itu saja, Presiden Jokowi juga menyelesaikan infrastruktur yang mangkrak pengerjaannya. Seperti Tol Becakayu (Bekasi-Cawang-Kampung Melayu) yang terhenti pengerjaannya selama 22 tahun. Tol yang terdiri dari 2 seksi itu, Seksi I (Kasablanka-Jaka Sampurna) sepanjang 11 Kilometer, dan Seksi II (Jaka Sampurna-Duren Jaya) sepanjang 10,04 kilometer. Hingga November 2016 Seksi I telah selesai dikerjakan 78 persen dan ditargetkan akan dioperasikan pada bulan Maret 2017.
Semua Menteri dibawah perintah Presiden Jokowi selalu ditekankan untuk kerja, kerja, kerja. Dan yang tidak mampu untuk mengikuti irama kerja Presiden Jokowi akhirnya akan tersingkir. Salah satunya adalah Anies Baswedan yang menjabat sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan. Sedangkan Menteri yang fenomenal adalah Menteri Kelautan Susi Pudjiastuti. Cara kerjanya tidak beda dengan Presiden Jokowi. Kerjanya serba cepat. Dan tentu selalu membela kepentingan nasional. Oleh karena itu, Menteri Susi tidak segan-segan untuk menghancurkan kapal-kapal asing yang mencuri ikan diperairan Indonesia.
‘Gila kerja’ – nya Presiden Jokowi pun menjalar ke Gubernur Basuki Tjahaja Purnama. Gubernur DKI Jakarta ini juga mempunyai motto Kerja, Kerja, Kerja. Tak heran jika banyak pegawai negeri sipil di kalangan Pemprov Jakarta yang kinerjanya sangat buruk diberhentikan oleh Ahok. Tetapi sebaliknya bagi yang berkinerja bagus akan dipromosikan ke jabatan yang lebih tinggi.
Bahkan Ahok sendiri sangat bangga dengan kinerja PPSU atau biasa dikenal dengan Pasukan Oranye. Karena kinerja Pasukan Oranye ini sangat dirasakan oleh warga Jakarta. Kebersihan-kebersihan sungai mulai terlihat. Got-got dan selokan dibersihkan. Sehingga ketika banjir datang, airnya bisa cepat surut. Kinerja Pasukan Oranye ini sangat perlu kita apresiasi.
Motto Kerja, Kerja, Kerja ini ternyata juga mendapatkan apresiasi dari Raja Salman, hal ini dikatakan oleh Yenny Wahid pada saat pertemuan Tokoh Islam dengan Raja Salman di Istana Merdeka.
Raja Salman sepertinya mengapresiasi motonya Pak Jokowi yang kerja, kerja itu. Jadi Raja Salman mengatakan, saya juga sangat senang kerja,” kata Yenny Wahid, sapaan karibnya di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Kamis 2 Maret 2017 seperti dikutip dari metrotvnews.com.
Jika Raja Salman mengapresiasi motto Kerja, Kerja, Kerja Presiden Jokowi tetapi tidak bagi Anies Baswedan. Calon Gubernur DKI Jakarta dari Partai Gerindra dan PKS ini bahkan mencela motto Kerja, Kerja, Kerja ini. Pada debat Calon Gubernur DKI Jakarta putaran pertama yang lalu Anies Baswedan secara terang-terangan mencela Basuki Tjahaja Purnama agar tidak kerja, kerja, kerja saja tetapi lebih membangun manusianya. Tetapi dengan tegas Basuki Tjahaja Purnama mengatakan bagaimana mau membangun manusianya jika infrastrukturnya sendiri tidak mendukung.
Tentu saja kita menjadi heran, jika pihak luar terus memuji motto Kerja, Kerja, Kerja tetapi anak bangsa sendiri malah mencelanya?
Inilah beberapa tokoh yang mencela motto Kerja, Kerja, Kerja –nya Presiden Jokowi.
Jangan hanya kerja, kerja, kerja namun tidak pakai program. Kalau tidak punya program tidak usah jadi gubernur,” ujar Hidayat Nur Wahid, (28/01) kepada rmol.co.
Tidak hanya (semboyan) kerja, kerja, kerja. Tetapi juga tak kalah penting akhlak, akhlak, akhlak yang harus ada pada diri para pejabat, tokoh, dan masyarakat,” kata Aa Gym yang dikutip dari jabar.tribunnews.com.
Jangan hanya kerja, kerja, kerja. Presiden Sukarno mengatakan banyak bicara, banyak bekerja,” ujar Anies seperti dilansir beritakepo.com

Rabu, 01 Maret 2017

Dubes Arab Mengkhawatirkan Isu Terorisme di Indonesia, bukan Isu Penistaan Agama



Semakin tepat jika FPI dan pendukung fanatiknya disebut sebagai tukang klaim. Setelah klaim-klaim sebelumnya yang selalu terbantahkan, mereka sempat mengklaim bahwa Raja Salman datang ke Indonesia untuk menemui Rizieq Syihab karena kagum dengan perjuangan Rizieq Syihab melawan penista agama. Namun sekali lagi itu hanya klaim murahan. Tidak ada sama sekali pembahasan isu tentang penistaan agama di Indonesia.
Sebanyak 10 kesepakatan (MoU) akan ditandatangani dalam kunjungan kenegaraan Raja Arab Saudi, Salman bin Abdulaziz Al-Saud ke Indonesia. Namun yang terpenting adalah kesepakatan untuk memerangi terorisme ISIS.
Duta Besar Saudi untuk Indonesia Osama Mohammad Abdullah Alshuaibi mengatakan hal tersebut dalam wawancara dengan media Reuters hari ini.
“Kami tahu Indonesia telah menderita akibat pengeboman dan terorisme di sini,” ujar Alshuaibi yang secara khusus menyebut kelompok radikal ISIS yang disebutnya “memiliki ideologi berbeda dan tidak menghargai nyawa manusia”.
“Kami akan bekerja sama dengan Indonesia dalam bidang ini. Kita bisa bertukar data, kita bisa bertukar pengalaman, dan kita bisa mengalahkan orang-orang ini (ISIS),” imbuh Dubes Saudi itu seperti dilansir Reuters, Selasa (28/2/2017).
Dikatakan Alshuaibi, para perwira militer Saudi dan Indonesia saling berlatih di masing-masing negara untuk memerangi ISIS.
Disampaikan Dubes Saudi itu, selain kerja sama memerangi ISIS, Saudi juga berniat untuk membuka lebih banyak sekolah Islam di Indonesia, yang akan mengajarkan pendidikan agama dengan menggunakan bahasa Arab.
Raja Salman akan melakukan kunjungan kenegaraan ke Indonesia pada 1-9 Maret 2017. Tak tanggung-tanggung, pemimpin Arab Saudi tersebut membawa rombongan dengan jumlah yang cukup besar, yakni kurang lebih 1.500 orang, termasuk 10 menteri dan 25 pangeran. Ini merupakan kunjungan kenegaraan pertama Arab Saudi ke Indonesia setelah 47 tahun.
Saya rasa cukup sudah bahwa isu-isu penistaan agama hanya lah isu murahan dan sarat politik. Saksi-saksi persidangan Ahok sempat ada yang mengatakan bahwa umat Islam se-Dunia merasa tersinggung dengan ucapan Ahok. Umat Islam di negara lain bahkan tidak menganggapnya sebuah isu yang mengkhawatirkan.
Jangankan umat Islam luar negari, umat Islam di Indonesia sendiri banyak yang mengganggap isu penistaan agama adalah isu murahan. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan secara berlebihan. Tidak perlu mengumpulkan orang yang tidak tahu apa-apa untuk ikut berdemo. Tidak perlu ada baner yang dipasang di Masjid untuk menolak menshalati jenazah pendukung Ahok.
Sekali lagi isu penistaan agama hanya isu murahan. Mereka yang berada di garda depan hanya orang-orang yang ingin mencari panggung agar namanya diperbincangkan di mana-mana. Mereka bahkan lebih mememntingkan isu penistaan agama dibanding isu terorisme yang jelas-jelas nyata.
Yap, Indonesia dalam kondisi darurat terorisme. Sudah ratusan warga tak berdosa akibat tindakan segelintir orang yang salah dalam memaknai hakikat ‘jihad’. Mereka menganggap jihad adalah bunuh diri dalam rangka memerangi orang non-muslim. Mereka tidak memahami bahwa jihad zaman sekarang sudah berbeda konteks dengan jihad pada zaman Nabi.
Berkali-kali masyarakat Indonesia dibuat ketakutan dengan ancaman-ancaman teror. Yang terbaru, sebuah bom meledak di bandung. Pelaku bom disinyalir adalah orang Islam yang ikut salah satu ormas tertentu.
Tentu sebagai orang Islam merasa miris karena beberapa pelaku teror bom di Indonesia adalah orang Islam yang perawakan dan penampilan mereka seperti orang yang sangat religius. Apakah wajah Islam sebengis itu? Bukankah Islam adalah ajaran damai?
Saya khawatir orang non-muslim menganggap bahwa Islam ajaran yang penuh dengan kekerasan dan kebengisan. Saya takut mereka menjadi phobia dengan Islam. Ketika mereka sudah menganggap jelek Islam, dakwah kepada mereka akan semakin sulit.
Sebagai seorang Islam, tunjukanlah wajah Islam yang damai, pemaaf, toleran, serta menghargai umat beragama yang lain. Kita harus meyakini agama Islam sekuat mungkin, namun jangan sampai keyakinan ini membuat kita tidak mau menghormati umat beragama yang lain.
Dalam sejarah, Nabi tidak akan melakukan peperangan jika tidak ditantang untuk berperang. Dakwah Nabi lebih kepada ajakan secara halus terlebih dahulu. Nabi berperang hanya untuk membela diri, bukan untuk menyakiti orang non-muslim.
Wali Songo juga sudah member contoh bagaimana Islam harus disebarkan dengan jalan yang damai, penuh toleransi, serta menghargai budaya lokal. Wali Songo berjasa besar dalam membuat peradaban Islam di Indonesia yang memiliki cirri khas unik yang membedakan dengan corak Islam di negara lain.
Islam Indonesia adalah Islam yang damai, toleran, serta menghargai budaya lokal. Wali Songo tidak pernah menyebarkan Islam dengan jalan kekerasan. Apa artinya ajaran Islam yang damai harus tersebar dengan cara kekerasan? Itu artinya tidak Islam lagi.
Saya heran mengapa akhir-akhir ini banyak orang-orang Islam yang seolah lupa dengan sejarah Wali Songo. Mereka bahkan bahkan ada yang tidak suka dengan keberadaan Wali Songo. Mereka seolah lupa bahwa ini Indonesia, bukan Afganistan, Palestina, atau negara timur tengah lain yang sedang konflik.
Mungkin seperti itu….

Tidak ada Pertemuan, Rizieq hanya disuruh Menyimak Pidato Raja Salman



Teka-teki apakah Raja Salman benar-benar akan mengadakan pertemuan akhirnya terjawab sudah. Ini sedikit bisa menyembuhkan rasa malu Rizieq dan FPI yang telah mengklaim akan mengadakan pertemuan dengan Rizieq Syihab. Minimal, mereka bisa membungkam netizen yang telah membulinya.
Setelah mengklaim bahwa Raja Salman akan lebih memilih menemui Rizieq dibanding Jokowi telah dibantah langsung oleh Majlis Syuro Arab Saudi yang mengatakan bahwa tidak ada agenda Raja Salman untuk menemui Rizieq. Bahkan, Raja Salman lebih memilih pergi ke Bali dibanding menemui Rizieq. Ternyata Raja Salman orang yang suka ke Bali juga meskipun Bali mayoritas beragama Hindu dan pantainya terkenal dengan banyaknya turis asing yang berjemur di atas pasir dan memamerkan auratnya. Hehe
Tapi tenang, masih ada harapan Rizieq bisa bertemu dengan Raja Salman meskipun kecil. Ini beritanya.
Rizieq dan Ulama GNPF MUI Diundang DPR Simak Pidato Raja Salman
Raja Arab Saudi Salman bin Abdulaziz Al Saud diagendakan akan memberikan pidato di DPR. Habib Rizieq dan para ulama GNPF MUI turut diundang.
“Kami diundang oleh DPR yang sudah berkoordinasi dengan protokoler Raja Salman,” ujar pengacara Habib Rizieq, Kapitra Ampera dalam perbincangan, Selasa (29/2/2017).
Kapitra turut diundang ke DPR untuk mendengarkan pidato Raja Salman pada Kamis (28/2) siang. Menurut Kapitra ada sekitar 20 orang ulama GNPF yang diundang.
“Ada Habib Rizieq, UBN (Ustad Bachtiar Nasir), ustad Zaitun (Zaitun Rasmin, Waketum GNPF MUI), Al-Khattath (Sekjen FUI Muhammad Al-Khattath) dan lain-lain,” kata Kapitra.
Raja Salman akan menyampaikan pidato politik di Ruang Sidang Gedung Nusantara, Kompleks DPR, Senayan, Jakarta, Kamis (2/3) mendatang. Kedatangan Raja Salman sangat dinanti mengingat Raja Arab Saudi terakhir berkunjung ke DPR pada 47 tahun lalu.
Di DPR, berbagai persiapan dilakukan jauh-jauh hari. DPR bahkan menyiapkan jalur khusus bagi Raja Salman. Jalur tersebut dibuat dari besi baja yang dilapisi tripleks dan nantinya akan dipasangi karpet merah. Jalan landai itu dipasang di sejumlah lokasi, khususnya di titik-titik yang ada anak tangganya.
Namun jangan bangga dahulu. Memang benar eksistensi Rizieq dan GNPF-MUI diakui sehingga pihak DPR merasa perlu untuk mengundang mereka menghadiri pidato Raja Salman. Bagaimana pun juga, mereka adalah tokoh yang akhir-akhir ini maramaikan jagat Indonesia. Kehebohan yang mereka buat memang bisa jadi diketahui oleh Raja Salman. Namun perlu dicatat, hal itu tidak serta merta membuat Raja Salman merasa perlu untuk mengadakan pertemuan dengn Rizieq Syihab.
Harus diperhatikan ini undangan dari DPR, bukan dari Raja Salman. Jadi jangan sampai mengklaim yang berlebihan, misalnya Raja Salman mengundang Rizieq untuk bertemu dengannya. Perlu diingat juga, undangan ini hanya sebagai penyimak pidato Raja Salman, bukan untuk menemui Raja Salman.hehehe
Namun boleh deh pihak Rizieq nanti mengklaim bahwa mereka mengadakan pertemuan dengan Raja Salman. Toh, kenyataannya nanti mereka memang melihat Raja Salman berpidato secara langsung. Hal ini memang termasuk pertemuan juga meskipun Raja Salman nantinya akan melihat Rizieq Syihab atau tidak memperhatikannya sama sekali. Atau mungkin memang melihat Rizieq namun tidak menutup kemungkinan Raja Salman tidak mengenali Rizieq.hehe
Okelah kita bahasakan seumpama nantinya Rizieq Syihab benar-benar bisa mengadakan pertemuan dengan Raja Salman dan sempat mengobrol, terus kenapa? Apa itu bisa serta merta menjadi bukti bahwa Raja Salman benar-benar kagum dengan tindakan Rizieq Syihab di Indonesia?
Perlu dicatat, Raja Salman memang seorang Raja yang memiliki kekayaan dan kehormatan. Namun kedatangannya disinyalir dalam rangka menjual saham Aramco. Arab Saudi sedang dalam keadaan ‘tidak biasa’ karena harga minyak yang terus jatuh.
Jika memang nantinya Raja Salman nanti benar-benar bertemu dan ngobrol dengan Rizieq Syihab sama sekali tidak bisa menjadi bukti bahwa Raja Salman mendukung tindakan Rizieq Syihab. Biasa saja. Tak ada istimewa-istimewanya. Namun ini tentu membutuhkan khayalan tingkat tinggi bahwa Raja Salman akan menemui Rizieq. hehe
Namun sedikit menggembirakan untuk Rizieq Syihab sebagai pimpinan FPI. Dia berpeluang untuk bertemu dengan Raja Salman.
“Berkaitan dengan program kunjungan Raja Salman selama di Indonesia, tentu dia akan bertemu dengan Presiden Jokowi dan menyampaikan pidato di DPR RI. Selanjutnya akan mengunjungi Masjid Istiqlal dan bertemu dengan ormas Islam dan barangkali dengan pemimpin-pemimpin agama lainnya yang akan ditentukan nanti,” kata Osama di kantor Kedubes Arab Saudi di Jakarta, Jl HR Rasuna Said Kav B-3, Kuningan, Jakarta Selatan, Selasa (28/2/2017).
Osama menegaskan nama-nama pimpinan ormas yang dijadwalkan bertemu didata oleh pihak Kementerian Luar Negeri. Nama-nama itu, menurutnya, direkomendasikan pihak pemerintah Indonesia.
“Yang memutuskan menentukan nama-nama yang diterima oleh Raja Salman itu adalah pihak Kemlu,” imbuhnya.
https://news.detik.com/berita/3434345/raja-salman-dijadwalkan-bertemu-pimpinan-ormas-islam
Yang menjadi pertanyaan, apakah Rizieq nanti termasuk dari pemimpin ormas Islam yang diundang? Kita lihat bersama nanti, namun masih ada peluang. Namun pada intinya, klaim mereka bahwa Raja Salman lebih memilih bertemu dengan Rizieq dibanding Jokiwi runtuh sudah. Rizieq ternyata tidak dianggap lebih istimewa dari Jokowi. Kalau nanti memang bertemu dengan Raja Salman itu hal yang sangat biasa mengingat pemimpin ormas dan agama lain juga diundang.
Mungkin seperti itu….

Memfilter Isu Hoax/Informasi Palsu melalui Literasi Media

 
 
Di era yang semakin canggih ini setiap orang mampu mengakses setiap informasi dengan cepat apalagi dengan hadirnya internet sebagai penyokong akses berbagai informasi yang ada. Informasi baik itu hiburan, olahraga, politik, sosial, ekonomi, kesehatan dan lain – lain. Setiap informasi yang dibutuhkan, diinginkan atau hanya sekedar disukai karena selera bisa didapatkan dengan mudah. Namun sayangnya jika tidak diimbangi dengan pengetahuan yang bagus dan bijak dalam mengakses informasi tersebut, tentunya ini akan menjadi sia – sia saja.
Permasalahan saat ini yang sering ditemukan adalah banyak orang yang menerima informasi palsu dalam bentuk apapun baik melalui media cetak atau elektronik yang ternyata informasi tersebut tidak kredibel, valid, akurat, manipulatif dan tentunya palsu atau hoax alias tidak ada fakta atau kebenaran yang mendukung informasi tersebut. Jika dibiarkan tentunya akan terjadi misinformasi atau pesan informasi yang salah dalam penyampaiannya dan juga banyaknya informasi yang hadir akan membuat ruwet arus informasi dan membuat semakin abu – abu atau tidak jelas mana informasi yang benar dan mana yang salah ini akan berimbas pada kebingungan publik karena tidak bisa membedakan mana yang asli dan mana yang bukan karena keruwetan arus informasi itu tadi.
Berbagai media akan memberitakan kejadian yang sama namun isi beritanya berbeda, gambar yang sama dalam sebuah kejadian namun isi beritanya berbeda antara satu dengan yang lain, informasi tentang suatu hal yang dibutuhkan masyarakat namun belum terjamin apakah itu benar seperti itu  dan sudah ada uji coba atau data penelitiannya berdasarkan lembaga terkait seperti lembaga kesehatan seperti informasi seputar tips kesehatan yang hadir di sosial media, di sisi lain pula ada berbagai pihak yang menggunakan media sebagai alat penyebar luas gerakan atas kepentingannya sekaligus alat pelaksana dari kepentingan itu dimana akan menggunakan informasi hoax sebagai penyokong gerakan mereka, dimana yang hoax terkadang di faktakan, dan yang fakta akan dihoaxkan atau memputar balikkan fakta. Jika lebih parah bahkan informasi hoax ini akan menjadi alat provokasi penyebar kenbencian atas unsur SARA atau kepentingan politik diantara masyarakat dan mungkin bisa berimbas pada sikap masyarakat yang takut dan curiga satu sama lain hingga menyebabkan konflik.
Informasi palsu atau hoax bisa menimbulkan potensi yang tidak terlalu merusak namun juga ada yang dapat sangat merusak. Yang tidak terlalu merusak itu seperti informasi tentang informasi heboh hewan jadi – jadian, air yang tiba – tiba keluar lantai di sebuah perumahan secara mistis atau sebuah makam yang keluar asap, yang ternyata banyak sekali unsur hoax ditambah kepercayaan akan hal yang tak masuk akal, imbasnya ini hanya akan membuat manusia menjadi mundur dan tidak bisa berpikir secara ilmiah dan cerdas, padahal informasi tersebut belum tentu seperti itu kejadiannya karena bisa saja ada penjelasan ilmiah terkait hal itu misalnya hewan jadi – jadian yang ternyata itu hewan ke spesifikasi langka atau informasi menakutkan tentang makam yang keluar asap yang ternyata itu hanya bagian dari set pembuatan film yang disalah tangkap oleh audiens pembaca atau pendengar yang disebar oleh penyebar hoax agar situs webnya dikunjungi atau postingan di sosial media banyak yang ngelike dan share. Sedangkan yang kedua adalah yang dapat sangat merusak dalam artian bisa menimbulkan kekacauan bahkan konflik.
Salah satu bentuk informasi ini sering hadir terkait isu agama dan politik, ada informasi yang kurang benar yang tersebar melalu media elektronik seperti lewat handphone melalui aplikasi Chat, SMS atau internet atau lewat laptop atau komputer melalui internet seperti situs sosial media, Blogspot dan lain – lain seperti website portal berita yang ditelan mentah – mentah oleh audiens karena hilangnya sikap kritis dan dewasa, dan mengedepankan emosi semata hanya karena jengkel dan kena hasutan kebencian oleh sang penyebar hoax dengan kemasan provokatifnya. Kombinasi hoax dan kemasan provokatif dalam penyebaran informasi ini sangat berbahaya jika dibiarkan misalnya seperti kasus di Sumatra beberapa waktu yang lalu dimana ada pembakaran tempat ibadah tertentu hanya karena oknum – oknum yang kena hasut dan tidak mengkroscek kebenaran berita, dan tidak mengedepankan kedewasaan dalam menanggapi sebuah permasalahan sosial. Dua hal tadi tentubya juga dibiarkan juga akan berimbas buruk pada sikap dan perilaku manusia karena mungkin karena informasi tersebut kita mudah terhasut, curiga, takut, dan percaya dengan hal yang tidak masuk akal yang akibatnya bisa membuat masyarakat semakin mundur dan bisa menimbulkan kekacauan dan konflik.
Lalu apa solusinya? Salah satu yang didengungkan sejak dulu adalah gerakan literasi media. Literasi media merupakan gerakan melek media sebagai pemahaman sumber dan teknologi dari komunikasi, kode yang digunakan, pesan yang diproduksi dan pemilihan, penafsiran serta dampak dari pesan tersebut. Selain itu juga merupakan kemampuan untuk memahami, menganalisis dan mendekontruksi pencitraan media.
Kaitannya dengan hal ini adalah dengan literasi media audiens atau para masyarakat bisa mendapatkan pengetahuan seputar informasi, media penyebarannya, atau bahkan tujuan dan dampak dari penyebaran informasi itu. Dengan adanya literasi media juga dapat meminimalisir efek buruk yang ada seperti kebingungan dalam mengakses informasi, konflik yang terjadi akibat informasi hoax dan provokatif atau berpikir sempit dalam menanggapi setiap isu yang ada. Selain masyarakat bisa mendapatkan pegangan yang baik misal ketika ketemu informasi hoax, misalnya saja ada informasi heboh dan membuat cemas warga karena isi pesannya memperingatkan ada banyak perampok di jalan raya. Dari sini kita bisa menggunakan literasi media misal dari komunikator atau penyampai pesan, apakah dia orang biasa, orang yang tidak jelas identitasnya atau dari pihak resmi terkait, tentunya informasi kredibel selalu berasal dari pihak resmi terkait, sedangkan dadi media penyebarannya apakah melalui aplikasi Chat , SMS atau melalui situs – situs internet atau postingan di sosial media, tentunya informasi kredibel berasal dari pihak resmi dan pihak resmi punya media komunikasi khusus.
 

Inilah Pesan Raja Salman Bagi Rakyat Indonesia



Kehebohan kedatangan Raja Arab Saudi, Salman bin Abdulaziz Al Saud, yang mengunjungi Indonesia mulai hari ini, 1 Maret 2017 benar-benar menyita perhatian publik di Tanah Air. Pasalnya, jumlah yang menyertai beliau tidak tanggung-tanggung, mencapai 1.500 orang, termasuk para pangeran,  menteri, dan pejabat kerajaan. Ini benar-benar langka. Belum pernah dilakukan oleh kepala negara mana pun.
Berbagai fasilitas, peralatan, dan keperluan beliau pun sebagian dibawa langsung dari Arab Saudi. Tentu bukan karena tak percaya atau tak mau merepotkan Indonesia. Mungkin beliau menunjukkan rasa bangga dan nyamannya memakai barang yang biasa dipakai dan dirawat sendiri. Bukan cuma pesawat penumpang, pesawat kargo, atau mobill Mercy tipe S600, produk Jerman dengan andalan three pointed star sebagai mobil mewah dengan tingkat perlindungan tinggi, tetapi juga tangga berjalan turut didatangkan dari Arab Saudi..
Itulah sebabnya pemberitaan beliau dalam beberapa hari ini telah menjadi fokus media. Media seolah berlomba memberikan informasi kepada publik tentang apa saja yang terkait dengan kedatangan beliau. Tujuannya, tentu saja, agar seluruh rakyat tahu, lalu menyambut beliau secara terhormat dan memaknai misi kedatangannya bagi kepentingan bangsa dan negara.
Pemerintah sendiri terus memantapkan persiapan penyambutan sesempurna mungkin untuk menjamin keamanan dan kelancaran kegiatan. Terlebih kenyamanan di mana pun beliau dan rombongannya pergi. Jangan sampai para “pengantin” yang selalu bercita-cita menghabisi hidup orang lain atau hidupnya sendiri guna mendapatkan bidadari cantik di surga memanfaatkan kesempatan tersebut untuk beraksi.
Agenda Kunjungan
Secara umum, agenda kegiatan beliau di Indonesia adalah kunjungan kenegaraan sebagai balasan kunjungan Presiden Jokowi sebelumnya, dilanjutkan dengan liburannya di Bali selama beberapa hari. Pada kunjungan kenegaraan, poin yang kerap disinggung media antara lain berbagai hal yang terkait dengan ibadah haji dan realisasi rencana investasi pada kilang minyak di Cilacap, Jawa Tengah, sebagai bagian kerja sama ekonomi dengan Indonesia. Juga investasi lain di bidang pariwisata dan portofolio, maupun peningkatan perdagangan antar kedua negara.
Tentang perdagangan, ada penulis yang mengusulkan pengembangan model selain G to G, juga B to B (Bussines to business), G to B (Government to Business) dan sebaliknya, serta G to C (Government to Cosummers) lewat aplikasi e-Government, atau lainnya lagi. Publik tentu berhadap agar usul-usul tersebut turut dipertimbangkan oleh pemerintah ketika melakukan perundingan dengan pemerintahan Raja Salman.
Pertanyaannya, apakah hanya hal-hal yang tersurat itu yang perlu diupayakan pada kedatangan Raja Salman? Tentu saja tidak. Masih banyak yang bisa diagendakan, termasuk rakyat yang sama sekali tak berkesempatan bertemu dengan Raja Salman.  Hanya saja media belum memberi porsi yang cukup untuk menggali dan membahasnya.
Antara lain yang perlu bagi rakyat, adalah menarik makna yang tak tersurat dari kunjungan beliau. Ini dapat diperoleh dengan menyibak tabir rahasia di balik liburannya di Bali sebelum melanjutkan perjalanan ke Malaysia, Jepang dan Tiongkok.
Hal tersebut dapat dianalogikan dengan tujuan kegiatan pembelajaran yang sangat familiar di kalangan guru, yaitu instructional effect dan nurturant effect.
Instructional effect merupakan tujuan yang ingin dicapai guru dan siswa melalaui kegiatan pembelajaran. Tujuan ini sudah dirancang sebelumnya oleh guru. Biasanya dirumuskan dalam bentuk target-target pengetahuan dan ketrampilan yang dapat diperoleh siswa usai proses pembelajaran. Tujuan ini tidak otomatis tercapai. Sangat ditentukan oleh banyak faktor, termasuk kesungguhan dan komitmen kedua belah pihak.
Hal yang mirip dapat ditemukan pada kunjungan Raja Salman. Namun, perlu segera dicatat bahwa hubungan Raja Salman dan Indonesia tidak sama dengan guru-murid, Fokusnya di sini adalah kedua belah pihak memiliki target-target yang diupayakan dicapai, dan pencapaiannya tergantung pada komitmen masing-masing dalam melaksanakan hal-hal yang telah disepakati.
Nurturant effect tidak demikian. Tujuan ini tidak selalu dirumuskan oleh guru, namun maknanya tak kalah penting dibanding dengan instructional effect.  Peran guru di sini lebih bersifat pemodelan, pemberian contoh dengan berbagai wujud penampilannya.
Contohnya, guru yang selalu datang tepat waktu, berpakaian rapi, selalu berkata lembah lembut, terbuka, mengakomodasi perbedaan pendapat, menerima dan mengakui keberagaman siswa berdasarkan latar belakang apa pun, tegas dalam menegakkan disiplin sekolah, tidak pilih kasih, dan sebagainya.
Kendati tidak dikatakan, tujuan yang terselip di balik penampilan tersebut ialah mengajar pada siswa agar melakukan hal yang sama dalam hidupnya. Guru seperti ini biasanya sangat berkesan bagi siswa, kerap jadi idola, dan ditiru tanpa disuruh.
Perlu digali dan Ditiru
Kedatangan Raja Salman pun begitu. Banyak nurturant effects dan side effect-nya yang dapat digali dan ditiru. Beliau pasti tidak sekedar basa basi membalas kunjungan Presiden Jokowi. Kedatangannya bersama sejumlah besar orang-orang penting di negaranya menunjukkan kesungguhannya membangun hubungan baik, lebih erat, kokoh antar Arab Saudi dan Indonesia, yang selama puluhan tahun sempat berfluktuasi.
Pilihannya berlibur di Bali, kemudian ke Jepang dan Tiongkok, sekaligus  menunjukkan sikap dasar beliau dalam memandang negara lain yang non Muslim. Bagi beliau, orang Bali, Tiongkok, dan Jepang memang beda keyakinan dengannya, bukan penganut Islam. Tetapi mereka adalah sesama manusia, kawan, sahabat, yang dapat dan perlu diajak bekerja sama dalam membangun kehidupan.
Pandangan tersebut tentu sekaligus menunjukkan bagaimana beliau mengimplementasikan iman Islam anutannya. Beliau tengah mengajar kita bahwa berkawan, bersahabat, bersekutu, atau bekerja sama dengan siapa pun yang beda gama, yang di negara kita kerap disebut sebagai kafir, adalah benar, wajar, dan bukan tabu.
Pandangan Islam yang demikian memang bukan baru bagi Arab Saudi. Hal ini dapat dibuktikan dengan perkawanan Arab Saudi dengan dunia Barat dan Amerika cukup lama dalam rupa-rupa hubungan kerja sama. Pada suatu kesempatan, Barack Obama, pernah menyebut persahabatan kedua negara sebagai luar biasa langgeng sejak pemerintahan Presiden Franklin Roosevelt, lebih dari 70 tahun yang lalu.
Mungkin juga masih segar dalam ingatan kita bagaimana keakraban beberapa negara barat, Amerika dan Arab dalam perang Teluk,1990-1991 yang dipicu oleh invasi Iraq ke Kuwait, kemudian menyeret negara-negara Arab untuk bersekutu melawan Iraq di bawah pimpinan Amerika. Saat ini, persahabatan itu diteruskan dalam memerangi ISIS, teroris, dan kelompok-kelompok radikal lain, yang juga menjadi salah satu misinya ke Indonesia.
Dengan model tersebut Arab Saudi yang nota bene adalah Negara Islam, secara tidak langsung mengajar bangsa kita bagaimana menghayati dan mengaplikasikan iman Islam dalam hidup bersama kafir. Membangun kehidupan bersama tidak dibatasi atau dilarang oleh iman Islam. Sebab, keyakinan mustahil rusak, najis, nista karena bersahabat dengan kafir.
Yang merusak keyakinan adalah perbuatan sendiri dengan meninggikan diri dan merendahkan yang lain. Orang bijak bilang, “Engkau tercemar bukan karena sesuatu yang datang dari luar, tetapi karena sesuatu atau banyak hal yang keluar dari dirimu sendiri: kata-katamu yang jorok, tidak sopan, sikap dengki, iri hati, egois, mau menang sendiri, merasa benar sendiri, dan seterusnya, dan sebagainya.

Sumber