Cari Blog Ini

Info-bendera-putih

Info-bendera-putih

Info-bendera-putih

Info-bendera-putih

Info-bendera-putih

Tampilkan postingan dengan label 112. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label 112. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 11 Februari 2017

Kok Bisa Ma'ruf Amin Larang NU Ikut Aksi 112?




Masih ingat kan sidang pengadilan ke -8 kasus Ahok tanggal 31 Januari yang lalu.Waktu itu banyak ummat Islam khususnya warga NU yang panas,emosinya naik dan darahnya mendidih melihat cara dan perilaku Ahok memperlakukan saksi KH Ma'ruf Amin, Ketua Umum MUI Pusat yang juga Rois Am Pengurus Besar NU. Menyaksikan perlakuan Ahok itu warga Nahdliyin protes dan pernyataan mengutuk perbuatan Ahok itu muncul sampai ketingkat wilayah, cabang, majelis wakil cabang sampai ke tingkat ranting. GP Ansor organisasi pemudanya NU segera mengumumkan Siaga Satu. 

Yang menyaksikan saja melalui televisi atau baca di media sudah panas konon lagi KH Ma'ruf Amin yang dituding dan diancam oleh Ahok untuk diadukan. Rasanya dalam gambaran kita pastilah Rois Am PB NU itu yang paling tersinggung. Walaupun terlihat Ulama sepuh itu tenang, tidak gelisah namun berdasarkan pikiran kita ia pasti marah. Pada usianya yang 74 tahun sungguh ia akan marah dan ada marah yang tertahan dalam dadanya. 

Itulah gambaran kita pada 31 Januari sore sampai malam. Perkiraan kita untuk mencegah marahnyalah Luhut Binsar Panjaitan Menko Maritim,Kapolda Metro dan Pangdam datang menyambangi rumahnya. Warga NU menunggu apa yang akan dititahkannya sebagai bentuk kekesalan dan pelampiasan kemarahannya. Namun sore hingga fajar besoknya tidak ada juga kata yang dititahkannya. 

Dalam pikiran kita kenapa dia tidak marah dan kenapa tidak mengucapkan kata untuk pegangan dan dasar ummat untuk bergerak. Sebagaimana yang dimaklumi NU punya tradisi sangat patuh dan manut kepada ulamanya. Berkunjunglah ke pesantren pesantren serta lihat dan perhatikanlah bagaimana takzimnya para santri menyalam sembari mencium tangan kiainya. 

Perhatikanlah betapa banyaknya masyarakat yang rela jauh berjalan kaki meninggalkan rumahnya hanya untuk menjumpai kiainya karena dengan sebuah tujuan untuk memperoleh berkah. Dan kini kiai itu telah diperlakukan tidak wajar oleh Ahok, ummat menunggu agar keluar amarah Ma' ruf Amin dan dengan amarahnya itu lah ummat akan melakukan tindakan sehingga amarah kiai itu terbalaskan. 

Tetapi rupanya ada yang dilupakan ummat.Ma' ruf Amin bukanlah seperti kita karena ia adalah cucu ulama besar Syaikh Muhammad Nawawi al- Jawi al Bantani seorang ulama besar yang punya wibawa dan pengaruh di tanah suci Mekkah bahkan di mancanegara dan juga menjadi Imam Besar di Masjidil Haram Makkah. Ulama Besar ini lahir di Tanara Serang ,1230 H bersamaan dengan 1813 M. 

Ia adalah seorang intelektual yang sangat produktif menulis kitab dan jumlah karyanya mencapai 115 buah kitab. Dengan garis keturunan atau trah ulama yang demikianlah Ma'ruf Amin mampu mengendalikan marahnya dan kemudian amarahnya jadi luluh ketika keesokan harinya Ahok yang telah memperlakukannya dengan tidak wajar tersebut menyampaikan permohonan maafnya dan cucu ulama besar itu pun memaafkan Ahok.

Ketika ada yang bertanya apakah ia marah dengan perlakuan yang diterimanya lalu dijawabnya dengan ungkapan, kalau orang marah kepada kita dan kita tidak marah itu namanya keledai tapi kalau orang minta maaf kepada kita dan tidak kita maafkan itu namanya setan. 

Dengan memaafkan Ahok maka ummat khususnya warga NU menjadi tenang. Dalam suasana batin yang penuh kemaafan itulah maka dikeluarkan instruksi agar warga NU tidak mengikuti Aksi 112. Disisi lain Ma'ruf Amin juga menyadari dirinya adalah Rois Am Pengurus Besar NU yang dalam doktrinnya mengenal prinsip tasamuh atau toleransi. 

Organisasi massa terbesar di Indonesia ini menyadari sepenuhnya keragaman yang membentuk bangsa ini dan karenanya dialog antar sesama komponen bangsa harus terpelihara dengan baik dan harus dicegah munculnya sikap sektarian yang pada akhirnya menumbuhkan sekat sekat pemisah diantara sesama anak bangsa. 

Ulama sepuh itu juga sangat paham dalam perjuangannya NU mengedepankan sikap tawassuth atau moderat dan menjauhkan cara cara yang radikal dalam mencapai tujuannya. 

Moderasi NU mengajarkan akan ada selalu perbedaan dalam kiat atau metode dalam tindakan operasional untuk memberhasilkan tujuan yang akan dicapai tetapi setiap gerak operasional tidak boleh mengambil tindakan yang kemudian menghasilkan percikan api yang kemudian bisa membakar apa yang ada disekelilingnya. 

Ma'ruf Amin juga memahami betapa bangsa ini membutuhkan NU untuk tetap mengawal keutuhan NKRI sebagaimana yang dipertegas kembali oleh Kapolri Jenderal Polisi Tito Karnavian ketika mengunjungi pesantren miliknya, An Nawawi Tanara tanggal 8 Pebruari yang lalu. 

Perpaduan antara subjektifitas yang melekat pada dirinya dan objektifitas untuk mempertahankan dan menjaga keutuhan NKRI tersebutlah maka Ma'ruf Amin yang pernah tersakiti itu menerbitkan perintah kepada warga NU untuk tidak mengikuti Aksi 112 yang kesemuanya bermuara untuk keutuhan Indonesia yang kita banggakan Salam Persatuan!

Masih ingat kan sidang pengadilan ke -8 kasus Ahok tanggal 31 Januari yang lalu.Waktu itu banyak ummat Islam khususnya warga NU yang panas,emosinya naik dan darahnya mendidih melihat cara dan perilaku Ahok memperlakukan saksi KH Ma'ruf Amin,Ketua Umum MUI Pusat yang juga Rois Am Pengurus Besar NU.Menyaksikan perlakuan Ahok itu warga Nahdliyin protes dan pernyataan mengutuk perbuatan Ahok itu muncul sampai ketingkat wilayah,cabang ,majelis wakil cabang sampai ke tingkat ranting.GP Ansor organisasi pemudanya NU segera mengumumkan Siaga Satu. Yang menyaksikan saja melalui televisi atau baca di media sudah panas konon lagi KH Ma'ruf Amin yang dituding dan diancam oleh Ahok untuk diadukan .Rasanya dalam gambaran kita pastilah Rois Am PB NU itu yang paling tersinggung.Walaupun terlihat Ulama sepuh itu tenang ,tidak gelisah namun berdasarkan pikiran kita ia pasti marah.Pada usianya yang 74 tahun sungguh ia akan marah dan ada marah yang tertahan dalam dadanya .Itulah gambaran kita pada 31 Januari sore sampai malam.Perkiraan kita untuk mencegah marahnyalah Luhut Binsar Panjaitan Menko Maritim,Kapolda Metro dan Pangdam datang menyambangi rumahnya.Warga NU menunggu apa yang akan dititahkannya sebagai bentuk kekesalan dan pelampiasan kemarahannya. Namun sore hingga fajar besoknya tidak ada juga kata yang dititahkannya.Dalam pikiran kita kenapa dia tidak marah dan kenapa tidak mengucapkan kata untuk pegangan dan dasar ummat untuk bergerak.Sebagaimana yang dimaklumi NU punya tradisi sangat patuh dan manut kepada ulamanya.Berkunjunglah ke pesantren pesantren serta lihat dan perhatikanlah bagaimana takzimnya para santri menyalam sembari mencium tangan kiainya.Perhatikanlah betapa banyaknya masyarakat yang rela jauh berjalan kaki meninggalkan rumahnya hanya untuk menjumpai kiainya karena dengan sebuah tujuan untuk memperoleh berkah. Dan kini kiai itu telah diperlakukan tidak wajar oleh Ahok ,ummat menunggu agar keluar amarah Ma' ruf Amin dan dengan amarahnya itu lah ummat akan melakukan tindakan sehingga amarah kiai itu terbalaskan.Tetapi rupanya ada yang dilupakan ummat.Ma' ruf Amin bukanlah seperti kita karena ia adalah cucu ulama besar Syaikh Muhammad Nawawi al- Jawi al Bantani seorang ulama besar yang punya wibawa dan pengaruh di tanah suci Mekkah bahkan di mancanegara dan juga menjadi Imam Besar di Masjidil Haram Makkah. Ulama Besar ini lahir di Tanara Serang ,1230 H bersamaan dengan 1813 M.Ia adalah seorang intelektual yang sangat produktif menulis kitab dan jumlah karyanya mencapai 115 buah kitab. Dengan garis keturunan atau trah ulama yang demikianlah Ma'ruf Amin mampu mengendalikan marahnya dan kemudian amarahnya jadi luluh ketika keesokan harinya Ahok yang telah memperlakukannya dengan tidak wajar tersebut menyampaikan permohonan maafnya dan cucu ulama besar itu pun memaafkan Ahok.Ketika ada yang bertanya apakah ia marah dengan perlakuan yang diterimanya lalu dijawabnya dengan ungkapan ,kalau orang marah kepada kita dan kita tidak marah itu namanya keledai tapi kalau orang minta maaf kepada kita dan tidak kita maafkan itu namanya setan.Dengan memaafkan Ahok maka ummat khususnya warga NU menjadi tenang. Dalam suasana batin yang penuh kemaafan itulah maka dikeluarkan instruksi agar warga NU tidak mengikuti Aksi 112. Disisi lain Ma'ruf Amin juga menyadari dirinya adalah Rois Am Pengurus Besar NU yang dalam doktrinnya mengenal prinsip tasamuh atau toleransi.Organisasi massa terbesar di Indonesia ini menyadari sepenuhnya keragaman yang membentuk bangsa ini dan karenanya dialog antar sesama komponen bangsa harus terpelihara dengan baik dan harus dicegah munculnya sikap sektarian yang pada akhirnya menumbuhkan sekat sekat pemisah diantara sesama anak bangsa. Ulama sepuh itu juga sangat paham dalam perjuangannya NU mengedepankan sikap tawassuth atau moderat dan menjauhkan cara cara yang radikal dalam mencapai tujuannya.Moderasi NU mengajarkan akan ada selalu perbedaan dalam kiat atau metode dalam tindakan operasional untuk memberhasilkan tujuan yang akan dicapai tetapi setiap gerak operasional tidak boleh mengambil tindakan yang kemudian menghasilkan percikan api yang kemudian bisa membakar apa yang ada disekelilingnya. Ma'ruf Amin juga memahami betapa bangsa ini membutuhkan NU untuk tetap mengawal keutuhan NKRI sebagaimana yang dipertegas kembali oleh Kapolri Jenderal Polisi Tito Karnavian ketika mengunjungi pesantren miliknya,An Nawawi Tanara tanggal 8 Pebruari yang lalu. Perpaduan antara subjektifitas yang melekat pada dirinya dan objektifitas untuk mempertahankan dan menjaga keutuhan NKRI tersebutlah maka Ma'ruf Amin yang pernah tersakiti itu menerbitkan perintah kepada warga NU untuk tidak mengikuti Aksi 112 yang kesemuanya bermuara untuk keutuhan Indonesia yang kita banggakan Salam Persatuan!

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/marayackandostorang/kok-bisa-ma-ruf-amin-larang-nu-ikut-aksi-112_589cf7ddf17a61cf0403a602
Masih ingat kan sidang pengadilan ke -8 kasus Ahok tanggal 31 Januari yang lalu.Waktu itu banyak ummat Islam khususnya warga NU yang panas,emosinya naik dan darahnya mendidih melihat cara dan perilaku Ahok memperlakukan saksi KH Ma'ruf Amin,Ketua Umum MUI Pusat yang juga Rois Am Pengurus Besar NU.Menyaksikan perlakuan Ahok itu warga Nahdliyin protes dan pernyataan mengutuk perbuatan Ahok itu muncul sampai ketingkat wilayah,cabang ,majelis wakil cabang sampai ke tingkat ranting.GP Ansor organisasi pemudanya NU segera mengumumkan Siaga Satu. Yang menyaksikan saja melalui televisi atau baca di media sudah panas konon lagi KH Ma'ruf Amin yang dituding dan diancam oleh Ahok untuk diadukan .Rasanya dalam gambaran kita pastilah Rois Am PB NU itu yang paling tersinggung.Walaupun terlihat Ulama sepuh itu tenang ,tidak gelisah namun berdasarkan pikiran kita ia pasti marah.Pada usianya yang 74 tahun sungguh ia akan marah dan ada marah yang tertahan dalam dadanya .Itulah gambaran kita pada 31 Januari sore sampai malam.Perkiraan kita untuk mencegah marahnyalah Luhut Binsar Panjaitan Menko Maritim,Kapolda Metro dan Pangdam datang menyambangi rumahnya.Warga NU menunggu apa yang akan dititahkannya sebagai bentuk kekesalan dan pelampiasan kemarahannya. Namun sore hingga fajar besoknya tidak ada juga kata yang dititahkannya.Dalam pikiran kita kenapa dia tidak marah dan kenapa tidak mengucapkan kata untuk pegangan dan dasar ummat untuk bergerak.Sebagaimana yang dimaklumi NU punya tradisi sangat patuh dan manut kepada ulamanya.Berkunjunglah ke pesantren pesantren serta lihat dan perhatikanlah bagaimana takzimnya para santri menyalam sembari mencium tangan kiainya.Perhatikanlah betapa banyaknya masyarakat yang rela jauh berjalan kaki meninggalkan rumahnya hanya untuk menjumpai kiainya karena dengan sebuah tujuan untuk memperoleh berkah. Dan kini kiai itu telah diperlakukan tidak wajar oleh Ahok ,ummat menunggu agar keluar amarah Ma' ruf Amin dan dengan amarahnya itu lah ummat akan melakukan tindakan sehingga amarah kiai itu terbalaskan.Tetapi rupanya ada yang dilupakan ummat.Ma' ruf Amin bukanlah seperti kita karena ia adalah cucu ulama besar Syaikh Muhammad Nawawi al- Jawi al Bantani seorang ulama besar yang punya wibawa dan pengaruh di tanah suci Mekkah bahkan di mancanegara dan juga menjadi Imam Besar di Masjidil Haram Makkah. Ulama Besar ini lahir di Tanara Serang ,1230 H bersamaan dengan 1813 M.Ia adalah seorang intelektual yang sangat produktif menulis kitab dan jumlah karyanya mencapai 115 buah kitab. Dengan garis keturunan atau trah ulama yang demikianlah Ma'ruf Amin mampu mengendalikan marahnya dan kemudian amarahnya jadi luluh ketika keesokan harinya Ahok yang telah memperlakukannya dengan tidak wajar tersebut menyampaikan permohonan maafnya dan cucu ulama besar itu pun memaafkan Ahok.Ketika ada yang bertanya apakah ia marah dengan perlakuan yang diterimanya lalu dijawabnya dengan ungkapan ,kalau orang marah kepada kita dan kita tidak marah itu namanya keledai tapi kalau orang minta maaf kepada kita dan tidak kita maafkan itu namanya setan.Dengan memaafkan Ahok maka ummat khususnya warga NU menjadi tenang. Dalam suasana batin yang penuh kemaafan itulah maka dikeluarkan instruksi agar warga NU tidak mengikuti Aksi 112. Disisi lain Ma'ruf Amin juga menyadari dirinya adalah Rois Am Pengurus Besar NU yang dalam doktrinnya mengenal prinsip tasamuh atau toleransi.Organisasi massa terbesar di Indonesia ini menyadari sepenuhnya keragaman yang membentuk bangsa ini dan karenanya dialog antar sesama komponen bangsa harus terpelihara dengan baik dan harus dicegah munculnya sikap sektarian yang pada akhirnya menumbuhkan sekat sekat pemisah diantara sesama anak bangsa. Ulama sepuh itu juga sangat paham dalam perjuangannya NU mengedepankan sikap tawassuth atau moderat dan menjauhkan cara cara yang radikal dalam mencapai tujuannya.Moderasi NU mengajarkan akan ada selalu perbedaan dalam kiat atau metode dalam tindakan operasional untuk memberhasilkan tujuan yang akan dicapai tetapi setiap gerak operasional tidak boleh mengambil tindakan yang kemudian menghasilkan percikan api yang kemudian bisa membakar apa yang ada disekelilingnya. Ma'ruf Amin juga memahami betapa bangsa ini membutuhkan NU untuk tetap mengawal keutuhan NKRI sebagaimana yang dipertegas kembali oleh Kapolri Jenderal Polisi Tito Karnavian ketika mengunjungi pesantren miliknya,An Nawawi Tanara tanggal 8 Pebruari yang lalu. Perpaduan antara subjektifitas yang melekat pada dirinya dan objektifitas untuk mempertahankan dan menjaga keutuhan NKRI tersebutlah maka Ma'ruf Amin yang pernah tersakiti itu menerbitkan perintah kepada warga NU untuk tidak mengikuti Aksi 112 yang kesemuanya bermuara untuk keutuhan Indonesia yang kita banggakan Salam Persatuan!

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/marayackandostorang/kok-bisa-ma-ruf-amin-larang-nu-ikut-aksi-112_589cf7ddf17a61cf0403a602
Masih ingat kan sidang pengadilan ke -8 kasus Ahok tanggal 31 Januari yang lalu.Waktu itu banyak ummat Islam khususnya warga NU yang panas,emosinya naik dan darahnya mendidih melihat cara dan perilaku Ahok memperlakukan saksi KH Ma'ruf Amin,Ketua Umum MUI Pusat yang juga Rois Am Pengurus Besar NU.Menyaksikan perlakuan Ahok itu warga Nahdliyin protes dan pernyataan mengutuk perbuatan Ahok itu muncul sampai ketingkat wilayah,cabang ,majelis wakil cabang sampai ke tingkat ranting.GP Ansor organisasi pemudanya NU segera mengumumkan Siaga Satu. Yang menyaksikan saja melalui televisi atau baca di media sudah panas konon lagi KH Ma'ruf Amin yang dituding dan diancam oleh Ahok untuk diadukan .Rasanya dalam gambaran kita pastilah Rois Am PB NU itu yang paling tersinggung.Walaupun terlihat Ulama sepuh itu tenang ,tidak gelisah namun berdasarkan pikiran kita ia pasti marah.Pada usianya yang 74 tahun sungguh ia akan marah dan ada marah yang tertahan dalam dadanya .Itulah gambaran kita pada 31 Januari sore sampai malam.Perkiraan kita untuk mencegah marahnyalah Luhut Binsar Panjaitan Menko Maritim,Kapolda Metro dan Pangdam datang menyambangi rumahnya.Warga NU menunggu apa yang akan dititahkannya sebagai bentuk kekesalan dan pelampiasan kemarahannya. Namun sore hingga fajar besoknya tidak ada juga kata yang dititahkannya.Dalam pikiran kita kenapa dia tidak marah dan kenapa tidak mengucapkan kata untuk pegangan dan dasar ummat untuk bergerak.Sebagaimana yang dimaklumi NU punya tradisi sangat patuh dan manut kepada ulamanya.Berkunjunglah ke pesantren pesantren serta lihat dan perhatikanlah bagaimana takzimnya para santri menyalam sembari mencium tangan kiainya.Perhatikanlah betapa banyaknya masyarakat yang rela jauh berjalan kaki meninggalkan rumahnya hanya untuk menjumpai kiainya karena dengan sebuah tujuan untuk memperoleh berkah. Dan kini kiai itu telah diperlakukan tidak wajar oleh Ahok ,ummat menunggu agar keluar amarah Ma' ruf Amin dan dengan amarahnya itu lah ummat akan melakukan tindakan sehingga amarah kiai itu terbalaskan.Tetapi rupanya ada yang dilupakan ummat.Ma' ruf Amin bukanlah seperti kita karena ia adalah cucu ulama besar Syaikh Muhammad Nawawi al- Jawi al Bantani seorang ulama besar yang punya wibawa dan pengaruh di tanah suci Mekkah bahkan di mancanegara dan juga menjadi Imam Besar di Masjidil Haram Makkah. Ulama Besar ini lahir di Tanara Serang ,1230 H bersamaan dengan 1813 M.Ia adalah seorang intelektual yang sangat produktif menulis kitab dan jumlah karyanya mencapai 115 buah kitab. Dengan garis keturunan atau trah ulama yang demikianlah Ma'ruf Amin mampu mengendalikan marahnya dan kemudian amarahnya jadi luluh ketika keesokan harinya Ahok yang telah memperlakukannya dengan tidak wajar tersebut menyampaikan permohonan maafnya dan cucu ulama besar itu pun memaafkan Ahok.Ketika ada yang bertanya apakah ia marah dengan perlakuan yang diterimanya lalu dijawabnya dengan ungkapan ,kalau orang marah kepada kita dan kita tidak marah itu namanya keledai tapi kalau orang minta maaf kepada kita dan tidak kita maafkan itu namanya setan.Dengan memaafkan Ahok maka ummat khususnya warga NU menjadi tenang. Dalam suasana batin yang penuh kemaafan itulah maka dikeluarkan instruksi agar warga NU tidak mengikuti Aksi 112. Disisi lain Ma'ruf Amin juga menyadari dirinya adalah Rois Am Pengurus Besar NU yang dalam doktrinnya mengenal prinsip tasamuh atau toleransi.Organisasi massa terbesar di Indonesia ini menyadari sepenuhnya keragaman yang membentuk bangsa ini dan karenanya dialog antar sesama komponen bangsa harus terpelihara dengan baik dan harus dicegah munculnya sikap sektarian yang pada akhirnya menumbuhkan sekat sekat pemisah diantara sesama anak bangsa. Ulama sepuh itu juga sangat paham dalam perjuangannya NU mengedepankan sikap tawassuth atau moderat dan menjauhkan cara cara yang radikal dalam mencapai tujuannya.Moderasi NU mengajarkan akan ada selalu perbedaan dalam kiat atau metode dalam tindakan operasional untuk memberhasilkan tujuan yang akan dicapai tetapi setiap gerak operasional tidak boleh mengambil tindakan yang kemudian menghasilkan percikan api yang kemudian bisa membakar apa yang ada disekelilingnya. Ma'ruf Amin juga memahami betapa bangsa ini membutuhkan NU untuk tetap mengawal keutuhan NKRI sebagaimana yang dipertegas kembali oleh Kapolri Jenderal Polisi Tito Karnavian ketika mengunjungi pesantren miliknya,An Nawawi Tanara tanggal 8 Pebruari yang lalu. Perpaduan antara subjektifitas yang melekat pada dirinya dan objektifitas untuk mempertahankan dan menjaga keutuhan NKRI tersebutlah maka Ma'ruf Amin yang pernah tersakiti itu menerbitkan perintah kepada warga NU untuk tidak mengikuti Aksi 112 yang kesemuanya bermuara untuk keutuhan Indonesia yang kita banggakan Salam Persatuan!

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/marayackandostorang/kok-bisa-ma-ruf-amin-larang-nu-ikut-aksi-112_589cf7ddf17a61cf0403a602

Selasa, 07 Februari 2017

Polisi: 11 Februari Tidak Boleh Ada Massa yang Turun ke Jalan



Jakarta - Polda Metro Jaya melarang massa untuk turun ke jalan berunjuk rasa tanggal 11 Februari nanti. Salah satu alasannya karena sudah berdekatan dengan hari pencoblosan Pilkada DKI.

"Tanggal 11 Februari itu tidak boleh turun ke jalan, dilarang melakukan aksi," tegas Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Argo Yuwono kepada detikcom di ruangannya, Jakarta, Selasa (7/2/2017).

Argo menyampaikan salah satu alasan mengapa aksi dilarang karena akan menghadapi masa tenang. Sehingga diharapkan, memasuki masa-masa tenang ini situasi lebih kondusif.

"Jadi kami harapkan masa tenang ini benar-benar aman, tidak ada aksi-aksi," imbuh Argo.

Apabila massa memaksakan untuk turun ke jalan, Argo menegaskan pihaknya akan mengambil tindakan tegas. Polisi juga tidak akan mengeluarkan STTP (Surat Tanda Terima Pemberitahuan) kepada massa yang akan melakukan aksi.

"Polisi tidak akan keluarkan STTP. Akan kita bubarkan kalau ada massa yang turun," tegas Argo.

Sekjen Muhammadiyah: Aksi 112 Sarat Muatan Politik



REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Sekretaris Jenderal PP Muhammadiyah, Abdul Mu’ti menanggapi rencana aksi 11 Februari 2017 atau 112 yang diinisiasi oleh Gerakan Nasional Pengawal Fatwa (GNPF) MUI.

Mu’ti mengimbau warga Muhammadiyah untuk lebih fokus pada pembinaan umat melalu pendidikan, ekonomi dan kesehatan. “Aksi-aksi itu sangat sarat muatan politik,” ujar Mu’ti kepada Republika.co.id, Selasa (7/2).

Ia mengatakan, ongkos untuk turun mengikuti aksi terlalu mahal secara finansial maupun sosial. Namun, katanya, menyampaikan pendapat merupakan hak setiap warga negara.

Muhammadiyah menilai, lanjutnya, rencana aksi tersebut bisa kontraproduktif. Menurut Mu’ti saat ini yang diperlukan membangun suasana yang sejuk dan kondusif serta persatuan dan kesatuan. “Karena itu warga Muhammadiyah sebaiknya berkhidmad di jalan dakwah kultural,” katanya.

Seperti diberitakan, Gerakan Nasional Pengawal Fatwa (GNPF) MUI berencana menggelar aksi pada 11 Februari 2017 atau 112 mendatang. Mereka berencana akan berkumpul di Masjid Istiqlal kemudian menuju Monas dan berjalan ke HI kemudian  kembali lagi ke Monas untuk membubarkan diri.

Sumber Berita

Soal Aksi 112, Ini Sikap Pemuda Muhammadiyah



REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ketua Umum PP Pemuda Muhammadiyah Dahnil Anzar Simanjuntak mengatakan, tidak akan menginstruksikan kadernya ikut dalam aksi 11 Februari 2017. Dahnil justru berharap Gerakan Nasional Pengawal Fatwa (GNPF) MUI selaku inisiator aksi mempertimbangkan kembali rencana tersebut.

“Agaknya GNPF harus mempertimbangkan dengan matang,” ujar Dahnil kepada Republika.co.id, Selasa (7/2).

Menurut Dahnil, jangan sampai perjuangan yang ikhlas dan murni untuk muruah umat dicederai dan kontradiktif oleh pihak yang tidak senang dan berusaha menyudutkan umat Islam. Terlebih, kata Dahnil, tanggal 11 Februari berdekatan dengan agenda pilkada serentak yang rawan dimanfaatkan oleh berbagai pihak.

Seperti diberitakan, GNPF MUI berencana menggelar aksi pada 11 Februari 2017 atau 112 mendatang. Mereka berencana akan berkumpul di Masjid Istiqlal kemudian menuju Monas dan berjalan ke HI, kemudian kembali lagi ke Monas untuk membubarkan diri.

Namun, Kapolda Metro Jaya Irjen M Iriawan menegaskan, akan membubarkan masyarakat yang memaksakan diri ikut aksi 112. Polisi akan membubarkan aksi tersebut sesuai dengan perundang-undangan Nomor 9 Tahun 1998.

Beberapa organisasi Islam seperti NU dan Muhammadiyah juga tak akan menginstruksikan warganya untuk ikut aksi. Seperti yang dinyatakan oleh PCNU Solo dan Pimpinan Daerah Muhammadiyah Surakarta.

Muhammadiyah Imbau Tokoh, Parpol, dan Warga Tak Ikut Aksi 112



Jakarta - Muhammadiyah mengimbau semua pihak tidak mengikuti aksi damai 112 mendatang. Tokoh-tokoh nasional, parpol, dan masyarakat diminta menahan diri.

"Pokoknya, berbagai macam aksi, lebih-lebih menjelang pilkada ini, baik tanggal 11 maupun tanggal 13, 14, itu sebaiknya tidak (diikuti)-lah," ujar Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir.

Hal ini dikatakannya setelah bertemu dengan Wapres Jusuf Kalla di kantornya, Jalan Medan Merdeka Utara, Jakarta Pusat, Selasa (7/2/2017).

Tidak hanya itu, Haedar berpesan kepada parpol dan tokoh-tokoh nasional agar bisa menahan kata-kata dan tidak memberikan pernyataan yang dapat memunculkan gejolak di masyarakat. Hal ini karena suasana politik nasional sedang menghangat menjelang pelaksanaan pilkada.

Muhammadiyah berharap rencana aksi damai 112 tidak membuka ruang terciptanya perselisihan di antara masyarakat. Dia menambahkan, masyarakat Indonesia adalah masyarakat yang majemuk.

"Saya sering sampaikan, masyarakat kita majemuk secara agama, etnis, dan golongan. Itu di satu pihak sebetulnya punya basis sosial-kultural yang bagus dan kita masyarakat yang relatif moderat ya, bisa menyelesaikan masalah secara kekeluargaan dan kebersamaan," terangnya.

Haedar tidak lupa menyampaikan pesan Wapres JK bahwa saat ini Indonesia dihadapkan pada dinamika politik yang semakin hangat. Oleh karena itu, semua pihak diminta dapat mengendalikan diri dan menciptakan suasana yang kondusif.

"Jadi kami imbau, berbagai aksi itu memang secara demokratis di negara kita, yang memberi keleluasaan untuk artikulasi aspirasi, memang tidak dilarang. Tetapi, dalam situasi sekarang, lebih-lebih untuk pilkada 15 Februari besok, kita imbau semua pihak untuk menahan diri. Di pihak lain, kita semakin menciptakan kondisi untuk saling bisa berbagi dan menyelesaikan persoalan-persoalan secara lebih dewasa," tegas Haedar.
(rvk/erd)