Cari Blog Ini

Info-bendera-putih

Info-bendera-putih

Info-bendera-putih

Info-bendera-putih

Info-bendera-putih

Senin, 06 Maret 2017

Satu Lagi Bukti Tingginya Irasional Di Bumi Datar (Berhubungan Dengan “Ketik Amin”)



Satu lagi nih cerita tentang warga penghuni bumi datar yang selalu fenomenal dan bikin greget. Hal ini berhubungan dengan orang-orang pencari “like” dengan cara “ketik amin” untuk meningkatkan nilai jual suatu fanspage yang banyak kita jumpai dan laku keras di group bumi datar. Dan dari hal tersebut dapat kita jadikan sebagai pengukur tingkat kerasionalan warga.
Fanspage (FP) adalah sebuah halaman atau komunitas yang dibuat oleh penggemar yang tertarik pada selebriti, fenomena, acara televisi, film, blog atau untuk mempromosikan produk/webnya dan si pembuat berusaha agar fanspagenya memiliki banyak like.
FP ini merupakan salah satu fasilitas atau layanan di Facebook, dan bila telah memiliki banyak like, dapat kita manfaatkan untuk mempromosikan blog atau website sehingga blog atau website tersebut akan banyak dikunjungi khususnya liker dalam FP tadi. Dengan banyaknya pengunjung di website yang di promosikan ini, otomatis pendapatan atau bayaran dari iklan yang tampil di blog atau web tadi akan naik. Fanspage yang banyak “like”nya memiliki nilai jual yang tinggi. Atau si pemilik fanspage bisa juga mendapatkan penghasilan dari orang yang ingin memasang iklan untuk membantu mempromosikan produknya.
Berbagai cara dan tehnik dilakukan untuk menarik “like” dari para netizen, mulai dari nge-add pertemanan, hingga menampilkan berita-berita yang menarik atau lucu. Terdapat juga cara yang cukup unik, mereka menampilkan gambar yang menyayat hati atau menyedihkan dari seorang nenek atau bapak-bapak, dan memberi Capture “semoga nenek ini dimudahkan rezekinya, dan jika kita adalah orang yang beriman tidak akan mengabaikan gambar ini tanpa ketik amin atau like”. Ada juga “yang like atau komen amin akan masuk surga” dan seterusnya.
Para pembaca Seword pasti tidak asing dengan kalimat di atas, dan familiar juga dengan kalimat “ketik amin” atau “ketik angka 1” dan lain sebagainya, karena kalimat ini sering muncul di beranda FB kita.
Dalam pengembaraan di dunia maya, saya terkadang bertandang masuk ke group kaum bumi datar, hanya untuk sekedar melihat-lihat keadaan di sana. Terus terang aja begitu menginjakan kaki di sana langsung saya merasakan hawa yang agak panas dan membuat gerah, hal ini seperti perasaan seseorang yang terbiasa hidup di daerah pegunungan yang sejuk dan banyak pepohonan, masuk ke daerah gurun pasir yang panas, terasa asing.
Ada sesuatu yang menarik dan menyita perhatian, setiap saya masuk ke group bumi datar, saya selalu melihat postingan yang meminta “ketik amin”, atau minta “like”, dan ternyata banyak peminatnya, rata-rata coment (ketik amin) atau like nyampai 1000 lebih. Dalam hati saya berkata, ternyata di sini rakyatnya pada royal dengan “like” dan “amin”. Ini merupakan surga bagi pencari “like”.
Kalau sedang tidak ada kegiatan, dan lagi nyantai, sesekali pembaca Seword coba deh masuk ke group mereka dan posting gambar yang menyedihkan lalu suruh mereka ketik “amin” atau suruh nge-like, dan tunggu dalam beberapa jam, lihat hasilnya, pasti fantastis (boom like dan coment).
Fenomena ini menunjukan rendahnya kadar rasional dalam cara mereka berpikir. Ini lah salah satu penyebab gampangnya mengumpulkan massa untuk diajak demo. Tidak menjadi masalah tema demo itu apa, karena yang menjadi faktor pentingnya adalah bagaimana cara mempengaruhi pola pikir dengan memanfaat ke irasionalan yang menumpuk dalam otaknya. Dan tentu saja cara yang paling ampuh untuk mempengaruhi kaum irasional adalah dengan membawa agama.
Mengapa agama menjadi cara terampuh mempengaruhi kaum irasional, karena agama berhubungan dengan keabstrakan. Bagi kaum rasional keabstrakan agama mereka kaji secara mendalam sehingga menimbulkan kesadaran dan pemahaman religius yang benar, tetapi bagi kaum irasional keabstrak ini tidak mampu mereka kaji secara mendalam, akibatnya mereka menerima mentah-mentah ilmu agama tersebut. Jangankan mengkaji keabstarakan agama, mengkaji maksud dan tujuan postingan minta “ketik amin” saja mereka tidak mampu, Buktinya hanya dengan menampilkan gambar yang menyedihkan, mereka menaggapinya dengan serius dan percaya begitu saja, padahal sejatinya gambar tersebut berlatar belakang kejadian apa mereka tidak tahu.
Keabstrakan agama membutuhkan kajian yang mendalam dengan kemampuan kecerdasan dan kebijaksanaan yang mumpuni untuk memperoleh pemahaman yang sebenarnya dari tujuan ilmu agama tersebut. Bila tidak dikaji secara mendalam, atau oleh kecerdasan dan kebijaksanaan yang mumpuni, hasilnya akan menyesatkan dan tidak sesuai tujuan sebenarnya.
Orang yang kebijaksanaannya rendah, akan cenderung irasional, dan kaum irasional (dalam hal agama) bila tidak mendapat guru agama yang tepat atau bahkan mendapat guru yang sesat, akan keblinger dan menjadikan agama alat untuk menyerang dan merugikan masyarakat lain.
Dalam hal membela agama, sejatinya agama hanya merupakan alat atau cara untuk mencapai tujuan, secara umum tujuan itu adalah keteraturan hidup, yang akhirnya menimbulkan atau memunculkan kebahagiaan (surga), lalu apakah rasional dan masuk akal jika agama itu justru menjadi sumber ketidak teraturan dan penderitaan karena alasan membela ini tadi. Saya rasa ini tidak terjangkau oleh pemikiran irasional.
Di Indonesia saat ini kaum irasional cenderung meningkat, ini terbukti dengan makin banyaknya sikap intoleran yang muncul akhir-akhir ini.

Kelompok Intoleran di Indonesia Beraksi, Raja Salman Membalasnya dengan Tamparan Keras



Agama apapun di dunia ini selalu mengajarkan tentang kebaikan. Tidak ada satupun agama yang mengajarkan perilaku jahat kepada para pemeluknya. Kebaikan yang diajarkan di dalam agama-agama itu tidak muncul dari tempat lain melainkan bersumber dari Tuhan sendiri; sebab Tuhan adalah sosok yang Mahabaik dan Mahabijaksana. Tuhan yang Mahabaik dan Mahabijaksana itu menghendaki supaya manusia berbuat baik kepada sesamanya, bukan sebaliknya, melakukan perilaku jahat. Tidak mungkinlah sesuatu yang jahat datang dari Tuhan.
Sayangnya, tidak sedikit juga orang mengenakan jubah agama untuk tujuan yang lain. Demi tujuan yang tidak kita ketahui itu, mereka tega mengumbar kebencian atas nama Tuhan dan agama. Mereka lupa atau secara sengaja melupakan bahwa semua orang sama di mata Tuhan. Padahal, Tuhan tidak mempersoalkan apa agama kita. Asalkan kita bisa melakukan perbuatan baik, kita sudah bisa menyenangkan hati Tuhan.
Itulah yang terjadi di negara kita. Kita sudah sering menerima beragam fitnah, ujaran kebencian, dan tindak kekerasan atas nama Tuhan dan agama. Kenyataan yang pahit itu membuat banyak orang bertanya-tanya, “Kok bisa-bisanya orang beragama melakukan perilaku tidak terpuji itu atas nama Tuhan dan agama? Bukankah Tuhan melalui agama mengajarkan kebaikan?”
Orang-orang yang terjebak pada fanatisme sempit seperti itu menjamur ke mana-mana, bahkan mungkin mereka ada di sekitar kita. Mereka anti terhadap segala kemajemukan di masyarakat. Jika kita melihat kembali kejadian demi kejadian yang muncul belakangan ini, misalnya, tampak sekali bahwa ada orang-orang yang merasa terganggu dengan keberagaman di negara kita. Hal seperti itu jelas mencederai kebhinnekaan yang ada di negeri ini. Padahal, kita tahu bahwa sikap yang seharusnya muncul dari dalam diri kita berhadapan dengan kemajemukan yang ada di masyarakat tidak lain adalah sikap toleransi.
Jangan lupa bahwa Indonesia ini dibangun oleh banyak orang dari berbagai latarbelakang suku, agama, dan ras. Maka dari itu, saya berpikir bahwa merupakan suatu kemunduran jika kita mulai mempersoalkan perbedaan-perbedaan yang ada di masyarakat kita.
Syukurlah, kedatangan Raja Salman bin Abdulaziz al-Saud ke Indonesia dalam beberapa hari ini membawa suatu wawasan baru bagi banyak orang di Indonesia, terutama bagi mereka yang selama ini berkoar-koar melawan segala kemajemukan di Indonesia.
Seperti kita ketahui bahwa hari ini Raja ketujuh Arab Saudi itu bertemu dengan tokoh-tokoh lintas agama. Di depan mereka, ia mengapresiasi keberagaman yang ada di Indonesia. Pertemuan Raja Salman dengan tokoh-tokoh agama itu jelas merupakan suatu tamparan keras bagi kelompok intoleran di Indonesia. Bahwasanya, seorang Penjaga Dua Kota Suci agama Islam saja tidak anti terhadap adanya perbedaan agama di masyarakat.
Jika Raja Arab saja mau menghargai perbedaan yang ada di masyarakat kita bahkan bersedia mengapresiasi terhadap keberagaman itu, mengapa kita yang ada di Indonesia justru bertindak intoleran terhadap sesama kita hanya karena mereka tidak seagama dengan kita?
Apakah hidup keagamaan dan pemahaman agama Anda jauh lebih baik dari Raja Salman? Jika Anda menjawab YA, saya hanya bisa bilang bahwa Anda sungguh terlalu. Apakah Anda berani mengatakan bahwa Raja Salman itu patut dianggap kafir karena ia menerima perbedaan? Sekali lagi, jika Anda menjawab YA, saya hanya bisa bilang bahwa Anda sungguh terlalu.
Seharusnya, sikap Pemimpin Wangsa Saud itu membuat Anda yang selama ini bersikap intoleran merasa malu. Bayangkan, Raja Salman saja mau menerima perbedaan, padahal ia berasal dari negara Arab yang notabene tempat lahirnya agama Islam, masa Anda yang hanya bertingkah mirip orang Arab sok anti terhadap perbedaan agama? Semoga saja sikap yang ditunjukkan oleh Raja Arab terhadap kemajemukan di Indonesia patut dicontoh oleh setiap orang di Indonesia. Salam sehati-sejiwa.

Raja Salman Minta Masyarakat Indonesia Jaga Kemajemukan dan Toleransi Antar Umat Beragama

 
 
Diantara kehebohan  kedatangan rombongan kerajaan Arab Saudi, bagi saya salah satu hal yang mengembirakan dalam lawatan  Raja Arab Saudi Salman bin Abdulaziz Al Saud Raja Salman adalah pertemuan dengan  tokoh lintas agama di Indonesia . Pertemuan  yang berlangsung sekitar 1 jam  tersebut digelar pada  Jum’at (3/3/2017) di Hotel Raffles, Jalan Prof. Dr. Satrio, Jakarta Selatan.
Terdapat 28 tokoh agama di Indonesia yaitu  sembilan tokoh Islam, empat tokoh Protestan, empat tokoh Katolik, empat tokoh Budha, empat tokoh Hindhu, dan tiga tokoh Konghucu.
Sembilan tokoh Islam yang hadir yaitu  Din Syamsuddin, Azyumardi Azra, Kammarudin Amin, Alwi Shihab, Zannuba Arriffah C. Rahman alias Yenny Wahid, Abdul Mufti, Masyakuri Abdillah, Komaruddin Hidayat dan Yudie Latief.(kompas.com)
Dari serangkaian acara Raja Salman, pertemuan lintas agama menjadi istimewa karena secara tidak langsung menunjukkan kepada warga Indonesia khususnya  kelompok islam  yang selama ini selalu titik-titik, bahwa orang nomor satu dari Arab Saudi tersebut  menghargai keberagaman.
Hal itu di kuatkan dengan pernyataan Baginda Raja Salman, yang saya rinci dalam point sebagai berikut  (http://www.cnnindonesia.com/nasional/20170303172253-20-197672/raja-salman-minta-ri-perkuat-toleransi-dan-kebinekaan)
Pertama, Raja Salman  memberikan apresiasi kepada Indonesia dalam hal kehidupan antar umat beragama yang terjalin dengan damai.
Kedua,  Raja Arab Saudi tersebut  meminta masyarakat Indonesia tetap menjaga kemajemukan dan toleransi antarumat beragama.
Ketiga , Raja Salman juga  meminta umat Muslim Indonesia untuk mempertahankan Islam moderat yang rahmatan lil alamin.
Keempat,  Raja Salman juga menyampaikan pentingnya menjaga toleransi dan harmoni antar umat Islam dan agama lain di Indonesia. Pelayan dua kota suci tersebut juga menambahkan bahwa Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki stabilitas ekonomi dan politik yang baik. 
Menurut beliau, stabilitas dan keamanan ini tidak akan bisa dijaga tanpa kemajemukan, toleransi, rasa saling menghormati, dan menghargai di tengah masyarakat yang beragam. Harmoni menjadi salah satu pilar penyokong stabilitas di Indonesia.
Rizieq Shihab cs mestinya paham pernyataan Raja Salman
Rizieq Shihab dan kelompok titik-titik mungkin tidak pernah menduga bahwa Raja Salman akan memberikan pernyataan seperti itu. Pernyataan yang sangat toleran dan menyejukkan. Perkiraan saya, mereka sangat shock dengan apa yang disampaikan Raja Salman. Mungkin mereka berharap Raja Salman akan ikut mendukung  aksi bela islam yang dilakukan berjilid-jilid  kemarin, memberikan apresiasi atas kuatnya pembelaan mereka terhadap islam, juga mencari waktu khusus untuk bertemu dan nge-date empat mata dengan pentolan mereka. Setidaknya itulah yang digembar-gemborkan, dibanggakan kelompok titik-titik  tersebut dalam media sosial.
Tetapi apa daya, ternyata  semua hanya tinggal impian. Bak mimpi di siang bolong, ternyata Raja Salman tidak ada aganda   bertemu dengan  Rizieq Shihab, atau sekedar berkirim salam. Tidak mengapresiasi aksi bela islam mereka. Bahkan Raja Salman malah memberikan pernyataan tentang penekanan pentingnya toleransi antar umat beragama di Indonesia.
Jika membaca pernyataan dari Raja Salman tersebut,  Raja memberikan penekanan pada pentingnya toleransi, rasa saling menghormati  antar umat beragama  di Indonesia.  Raja Salman terlihat sangat memahami  kebesaran Indonesia, kestabilan kondisi ekonomi dan politik   salah satunya karena faktor keberagaman  di Indonesia. Indonesia yang besar dengan bermacam agama tidak mendorong perpecahan tetapi justru  semakin menguatkan.
Penekanan  pada pentingnya toleransi antar umat beragama, menurut saya telah menohok dan menampar  Rizieq Shihab dan kelompok titik-titik, yang  dalam beberapa bulan ini ribut dengan aksi yang berjilid-jilid dengan label bela agama.
Sepertinya, secara tidak langsung, Raja Salman  telah menyampaikan pesan kepada pimpinan Front Pembela Islam tersebut, bahwa seharusnya isu-isu SARA tidak dibawa-bawa dan dibesar-besarkan karena berpotensi menyulut perpecahan dan pertikaian antar bangsa Indonesia sendiri. Paling tidak  itu sudah terbukti selama aksi berjilid-jilid telah menimbulkan keresahan, memicu ketegangan, permusuhan, kemarahan, ketakutan  banyak pihak, tidak hanya antar umat beragama tetapi juga sesama  umat islam sendiri.
Bagi saya, mestinya kelompok titik-titik  tersebut  mulai menyadari dan segara berubah sikap karena apa yang selama ini dilakukan ternyata lebih sekedar penurutan emosi   dan sesungguhnya mereka  hanya  cenderung ikut-ikutan, asal-asalan tanpa tahu persis ada agenda  politik di balik serangkaian kegiatan yang mereka lakukan. Belum ada kata terlambat untuk lebih bersikap arif dan mau mengerti orang lain serta tidak memaksakan kehendak seolah-olah bahwa itu memang seperti yang dipikirkannya.
Pada akhirnya, penting bagi mereka untuk mulai belajar  menjaga toleransi dan harmoni antar umat Islam dan agama lain di Indonesia. Seperti pesan Baginda Raja Salman. Semoga.***
 

Stop Memberi Label Diskriminatif Hanya Karena Berbeda

 
 
Pernah kita memberikan pendapat berbeda terhadap sebuah postingan di sosial media, namun karena pendapat itu terasa menyinggung pendapat yang membuat postingan, kita langsung dilabeli T*iker, Ahoker, Panasbung, Panastak, Kecebong, Kutil Babi, Onta, Domba, 2d, dan beberapa julukan atau label yang diskriminatif.
 
Julukan atau label itu hadir ketika ada sebuah adu argumen atau cuma sekedar memberi pendapat. Yang sangat disayangkan ketika kita memberi sebuah pendapat berbeda terhadap suatu isu, seseorang bisa menuduh dan melabeli sesuka hati dan seenaknya saja bahkan ketika mereka tidak tahu persis siapa kita atau apa pandangan kita, namun mereka bisa langsung menuduh kalau kita adalah dari kubu x, y atau z.
 
Dari awalnya, label seperti ini hadir ketika ada perbedaan entah perbedaan pendapat, ideologi, pandangan politik bahkan yang ekstrim seperti perbedaan terkait etnis, ras, suku atau agama dan juga gender atau status sosial. Terdapat masalah ketika orang yang ngakunya baik dan damai namun sulit bersikap dengan baik apabila ada yang berbeda dengannya.
 
Yang ironis label ini biasanya hadir dari orang – orang yang ngakunya relijius, nasionalis, atau yang anti kekerasan dan pro perdamaian sekalipun. Mereka yang anti diskriminasi tiba – tiba jengkel dengan pihak yang melakukan diskriminasi sayangnya dibalas dengan diskriminasi pula. Misal ketika ada orang yang melabeli orang lain dasar antek Cina, maka ada orang yang gerah dengan hal itu sayangnya tidak dibalas dengan baik namun juga sama kasarnya seperti kalimat dasar onta bahlul. Tentu hal inilah yang membuat perdamaian akan tetap surut. Apalagi jika label diskriminatif itu sudah terkait sara.
 
Kenapa harus berhenti memberi label atau julukan diskriminatif?
 
Yang pertama ini hanya semakin menunjukan bahwa warga Indonesia ini benar – benar terkotak – kotak, terpisah, dan berkubu – kubu. Dan mengerikannya mereka saling mengklaim kubunya yang paling hebat, dan menggeneralisir kubu lawan adalah yang paling buruk. Padahal di dunia ini tidak ada yang sempurna. Setiap hal ada yang baik dan buruk. Mungkin suatu saat akan bersatu kalau ada musuh bersama, anggap aja ketika alien nyerang bumi, atau paling realistis ketika negara tetangga mencoba mengklaim budaya atau ketika ada kompetisi olahraga sepakbola dan badminton. Namun ketika itu selesai maka akan kembali seperti semula.
 
Yang kedua, label atau julukan diskriminatif ini merupakan simbol dari sebuah kebencian yang amat dalam terhadap sebuah hal yang berbeda. Yah, misalnya dalam sebuah postingan dari media portal berita. Ketika ada orang yang punya pendapat berbeda, maka orang lain yang tidak suka akan memberikan label yang diskriminatif walau orang itu menyampaikan pandangannya dengan sopan dan halus dan bersifat membangun, tanpa ada unsur hate speech sekalipun.
 
Contoh lainnya misalnya ada berita pemimpin idolanya memberikan sebuah statement. Terkadang baik kubu pro dan kontra bisa saling menyalurkan kebenciannya melalui label – label yang dirasa kurang pantas untuk dilihat publik.
 
Ketika kebencian yang amat dalam ini tersalurkan lewat sebuah kata – kata yang ditujukan kepada orang yang punya pandangan berbeda dengannya, maka ini membuktikan kalau sebagian orang benar fanatik dalam memuja apalagi memuja idola kesukaannya, ditambah kebencian yang berlebihan tadi membuat sikap kritis dan dewasa menjadi hilang. Semua dilakukan atas prinsip idolanya yang paling benar dan tak pernah salah, siapapun yang mengkritiknya maka dialah masalah sebenarnya.
 
Prinsip inilah yang dipegang sebagian orang karena merasa junjungannya ibarat mahluk yang sempurna, ditambah fanatisme dan kebencian yang sangat berlebihan. Siapapun yang mengkritik dan menyinyir idolanya harus dihajar balik.
 
Lalu apakah perbedaan itu sebuah masalah?
Tidak, permasalahannya adalah orang yang tidak bisa bersikap dewasa dan berpikir kritis dalam menerima perbedaan. Perbedaan adalah anugrah. Mau gak mau harus dihadapi, namun bukan berarti harus benci. Ketika ada orang yang bersebrangan dan mengucapkan kata – kata kasar disertai label atau julukan diskriminatif, kita tidak perlu membalasanya dengan hal yang diskriminatif pula apalagi berbau hatespeech. Kita bisa membalasnya dengan kritikan yang santun, halus dan sopan namun mengena, tegas tak masalah yang penting tidak kasar apalagi berbau hatespeech. Jelaskan salahnya dimana, buatlah kritikan yang membangun dan juga tetap menjaga hubungan baik dengan orang yang berbeda.
 
Karena hal itu justru mencegah untuk terpecah belah namun mengajak untuk lebih terbuka dalam perbedaan dan tetap menjaga persatuan. Berbeda tidak masalah yang penting saling menghargai, bertutur sopan dan santun, membuat kritikan yang membangun ,saling menjaga hubungan baik dan tentunya jangan mudah marah atau terprovokasi. Jangan sampai kita – kita semakin terpecah belah dengan diskriminasi level bawah seperti pemberian label diskriminatif karena jika sudah terpecah belah, pihak yang punya kepentingan akan semakin mudah untuk menyetir dan disitulah konflik bisa terjadi atas kepentingan tertentu.
 

Rahmatan lil Alamin: Yakinlah, Islam bukan Arab

 
 
Permasalahan “Arab” dan “Non Arab” belakangan menjadi isu yang hangat di tengah banyaknya permasalahan yang dihadapi bangsa belakangan ini. Ada kubu yang Pro dengan ke Arab-araban, lalu kemudian selalu memuji dan memuja segala hal yang berkaitan dengan sesuatu yang berbau “Arab” dan mengaitkan nya dengan ajaran Islam. Ada pula kubu yang kontra “Arab”, lalu kemudian membenci segala hal yang berkaitan dengan “Arab”, entah itu tradisi, kebudayaan, cara berpakaian, dll.
Mereka yang Pro “Arab”, seringkali menganggap orang-orang yang tidak mengikuti segala hal yang berbau “Arab” adalah orang yang juga membeci Islam. Begitu pula sebaliknya, mereka yang Kontra “ Arab” juga menganggap mereka yang terlalu mengaggung-agungkan “Arabi” adalah orang-orang yang terlalu kaku, dalam memahami agama secara berlebihan dan selalu mengaitkan Islam dengan Arab.
Dalam Islam semua orang dipandang sama, apapun ras, suku dan warna kulitnya, adalah salah jika kemudian ketika kita menganggap ras atau suku yang satu dan lain nya, lebih baik keislaman nya dibanding yang lain nya. Begitu pula ketika berbicara tentang “Arab”, sebagian dari kita memang meyakini, bahwa Islam selalu identik dengan “Arab”, tapi yakinlah sesungguhnya Islam bukanlah “Arab”.
Rasul bersabda:
“Tidak ada kelebihan orang Arab atas orang Ajam(bangsa non Arab), dan tidak pula orang berkulit putih atas orang berkulit hitam, kecuali dengan taqwa”.
Dalam rentang sejarah Islam yang sudah lebih dari 1400 tahun membuktikan bahwa isi hadits tersebut benar adanya. Bahkan lebih jauh lagi, empat orang dari enam orang Imam besar ahli Hadits yang buku-buku kompilasi Hadits mereka (Kutubus Sittah, Buku induk yang Enam, yaitu Sahih Bukhari, Sahih Muslim, Sunan Turmudzi, Sunan Abu Dawud, Sunan An Nasa’i, dan Sunan Ibnu Majah) hingga kini masih dijadikan rujukan utama dalam mempelajari sumber-sumber Islam, ternyata bukanlah orang-orang Arab.
Imam Bukhari berasal dari Bukhara, Uzbekistan. Imam Muslim berasal dari Tashkent, Uzbekistan. Imam Turmudzi berasal dari Termez, Uzbekistan. Imam An Nasa’i berasal dari Khorasan, Iran. Bahkan ulama ahli hadits kontemporer, Syaikh Nashiruddin Al Albani, berasal dari Albania.
Dulu Almarhum Gusdur pernah berkata “Kita ini sebenarnya orang Islam yang (kebetulan) hidup di Indonesia ataukah orang Indonesia yang kebetulan beragama Islam?”
Yakinlah, menjadi Muslim tidak harus Arab. Dengan budaya lokal sekalipun, seseorang bisa menjadi Muslim sejati. Maka adalah salah besar jika kemudian ada yang berpandangan, demi menjaga kemurnian ajaran Islam, penganut Islam di Indonesia, atau di manapun berada diharuskan meniru “Islam masa Rasulullah”, dan bukan mengikuti “Islamnya Rasulullah”. Jika yang model seperti ini yang diikuti, maka yang akan terjadi adalah Arabisasi, bukan Islamisasi.
Sebagai contoh, dalam hal berpakaian, kita diwajibkan untuk menutup aurat. Tidak pernah ada ajaran yang mewajibkan kita unntuk memakai gamis, dan pakaian tradisional Arab lainnya. Toh dengan memakai sarung dan baju batik pun kita telah memenuhi kriteria menutup aurat. Sehingga muncul pula istilah orang-orang yang memahami Islam secara kontekstual. Islam yang di sesuaikan dengan budaya lokal, Islam yang terakulturasi dengan budaya setempat, selama tidak bertentangan dengan ajaran Islam yang sebenarnya.
Akan tetapi, walaupun demikian di sisi lain, banyak pula ajaran Islam yang memang tidak bisa dipisahkan dengan dunia Arab, di mana tempat Agama ini diturunkan. Bagaimana pun kita harus mengakui pula, kitab suci yang menjadi sumber ajaran dalam Islam juga berbahasa Arab. Begitu pula kewajiban berhaji, dan yang lainnya.
Kita pun kemudian diajarkan untuk menghargai, bahkan mencintai bangsa Arab, seperti sabda Nabi Muhammad SAW sendiri :
“Cintailah oleh kamu akan Arab karena tiga hal (dalam riwayat lain, Jagalah hak-hak ku melalui Arab karena tiga hal) : pertama, karena aku orang Arab, kedua Alquran berbahasa Arab dan ketiga pembicaraan ahli surga dengan bahasa Arab
Namun, kecintaan dan penghargaan ini bukan berarti kita taklid seratus persen terhadap apa-apa yang dibawa oleh orang-orang Arab. Kita mesti memisahkan yang mana ajaran Islam, dan mana pula yang hanya sekedar budaya Arab.
Kita sebagai muslim harus mengikuti ajaran Islam, tapi tidak wajib untuk mengikuti budaya Arab.
 

Sabtu, 04 Maret 2017

Anti Arab Atau Anti “Arab”



Megawati anti Arab? Ahokers anti Arab? Gimana caranya bisa anti Arab kalau ketemu juga belum pernah? Kalau pun bertemu ya gak bakal saling ngerti karena yang satu ngomong bahasa Indonesia yang satu ngomong Arab. Jadi gimana cara bisa anti Arab?!
Begitulah awal kebingungan saya. Kenapa ketika Raja Salman datang tiba-tiba mereka memberikan stampel anti Arab pada penduduk bumi bulat? Akhirnya saya mengerti dengan cara menurunkan kecerdasan saya yang sudah pas-pas’an ini menjadi dibawah rata-rata supaya bisa paham cara berpikir makhluk bumi datar itu. Mari kita lihat komentar-komentar mereka saat melihat foto diatas yang diambil dari Instagram Raja Salman.
Waspada selalu @kingsalman jika berdekatan dg duo nenek ini.. Ssstt,, jgn smpe ketaun raja dan rombongannya klo kemarin2 duo ini bilang anti Arab.. 😊
Ckck mak banteng ngapain disitu. 😂 Kmrn ngata2in Arab . Skrg sok selfie senyum2
Itu mak banteng lagi ngapain???? Bukannya kemaren2 ngomong anti Arab sekarang malah ikut2 nguntil raja salman, ga pake hijab lagi, ga punya muka apa 😂😂😂 pengen kebagian jatah yaa hhaa
Alhamdulillah jangan bilang anti arab lagi ya . . .Alhamdulillah udah taubat.
“Tolong hapus foto ini @kingsalman.”
Megawati pernah berpidato, dalam pidatonya beliau berkata  “Kalau mau jadi orang Islam, jangan jadi orang Arab.” Sebenarnya menurut beliau sendiri dalam pidato tadi, ucapan tersebut adalah ucapan ayahnya, Ir. Soekarno. Demikian besar nama Soekarno hingga saat Raja Salman datang yang ditanya adalah “Mana cucu Soekarno”. Sementara di Bumi datar mereka berharap yang ditanya Raja Salman adalah yang lain…sayang mimpi mereka hancur berantakan.
Nah ucapan Megawati lagi-lagi sengaja disalah-pahami sebagai ucapan anti Arab . Entah bagaimana otak penduduk bumi datar memproses informasi, tapi dari mana ucapan Megawati yang seperti itu kok bisa dimaknai anti Arab? Ucapan anti Arab tuh kurang lebih seperti ini “Ingin saya bilang Arab itu A****G!! Tapi tidak boleh!!”
Lah Megawati itu hanya bilang kalau orang Indonesia memeluk agama Islam maka jangan jadi orang Arab, tapi tetap jadi orang Indonesia. Persis sekali dengan cara mereka memfitnah Quraish Shihab, Said Aqil, Ahok dan Megawati. Mereka potong kalimatnya, lalu mereka keluarkan dari konteksnya. Malu dong, katanya umat Nasrani yang suka potong-potong kalimat, lagian emangnya bebek angsa dipotong-potong. Jangan ditiru yah….jangan.
Ini ucapan Megawati sebelum mengatakan “Kalau jadi Islam…..”
“Ketiga, adalah ke-Tuhan-an. Menjadi poin ketiga, bukan karena derajat kepentingannya paling bawah, tetapi justru karena Ke-Tuhan-an sebagai pondasi kebangsaan, demokrasi politik dan ekonomi yang kita anut. Tanpa Ke-Tuhan-an bangsa ini pasti oleng. Ke-Tuhan-an yang dimaksud adalah Ke-Tuhan-an dengan cara berkebudayaan dan berkeadaban; dengan saling hormat menghormati satu dengan yang lain, dengan tetap tidak kehilangan karakter dan identitas sebagai bangsa Indonesia.
Bung Karno menegaskan, “kalau jadi Hindu, jangan jadi orang India. Kalau jadi Islam, jangan jadi orang Arab, kalau jadi Kristen, jangan jadi orang Yahudi. Tetaplah jadi orang Indonesia dengan adat budaya Nusantara yang kaya raya ini.” Bandingkan dengan sumber sebelumnya dan bagaimana pidato Megawati dipelintir kayak meres susu sapi.
Jadi apakah Megawati juga anti India, anti Arab, anti Yahudi? Ya jelas bukan itu maksudnya tapi maksud beliau adalah tetap jadi orang Indonesia apapun agama kita, jangan kehilangan karakter dan identitas sebagai bangsa Indonesia. Sungguh ini pesan yang luar biasa sekali karena sebenarnya ini pesan dari Ir. Soekarno. Orang yang pernah di penjara karena ingin mendirikan negara Indonesia, sedangkan para onta penduduk datar pernah apa untuk negeri ini?
Lalu bagaimana pendukung Ahok, apakah anti Arab? Jelas tidak. Kalau kritik karena serangan Arab ke Yaman itu bukan anti. Jonru juga sering “mengkritik” pemerintah Indonesia, apa dia anti? Bagaimana dengan SBY yang kerap mengkritik pemerintahan Indonesia? Dia juga anti Indonesia? Prabowo? Nah jelas kan salah logika para penduduk bumi datar itu.
Lagi pula rasanya pendukung Ahok itu anti ke’arab-araban biar disangka paling beriman. Beda yah antara Arab dan ke’arab-araban sama seperti mobil itu beda dengan mobil-mobilan. Dengan ke’arab-araban kemudian merasa boleh memaksa orang lain, mengkafirkan orang lain, mencap munafik, liberal dan sebagainya kepada sesama muslim. Bukan anti arab tapi anti orang Indonesia ke’arab-araban lalu merasa berhak ngurusin hidup orang. Apalagi ternyata baju sudah kayak orang suci pakai sorban dan serba putih tapi dibelakang ternyata asik maen sama janda.
Lebih parah lagi yang membawa pola pikir anti ke-bhineka’an dari luar ke Indonesia. Indonesia itu beragam, harus bisa tinggal berdampingan sama si Batak, si Jawa, si Sunda, Papua, Ambon, Dayak, Cina, dan sebagainya. Harus bisa berdampingan dengan mereka yang berbeda agama dan beda pendapat meski satu agama. Karena kita Indonesia, ideologi kita adalah Pancasila dan semboyan kita adalah Bhinneka Tunggal Ika. Mimpi kita adalah membangun sebuah negara kesatuan yang melindungi hak semua rakyatnya tanpa membeda-bedakan agama dan ras.
Jadi tetap jaga karakter dan identitas sebagai bangsa Indonesia yang terkenal ramah dan santun. Tetap jadi orang Indonesia yang bersama sama membangun negeri ini bukan diam-diam membenci lalu menggerogotinya agar rubuh dan diganti dengan yang lain. Jangan karena berpakaian ngarab lalu kita jadi harus harab maklum.

Habib Rizieq melampaui batas



Sejumlah ulama atau pemuka agama Islam tampak menghadiri pidato Raja Arab Saudi Salman bin Abdul Aziz al-Saud di DPR, maupun bersamuh dengan sang raja di Istana Kepresidenan, Kamis (2/3/2017).
Namun, dari barisan para ulama tersebut, pemimpin Front Pembela Islam (FPI) Muhammad Rizieq bin Hussein Shihab tampak tak terlihat.
Pemimpin FPI yang beken disebut Habib Rizieq tersebut, memang tak masuk daftar undangan ulama yang bersua Raja Salman di Istana Kepresidenan. Ia hanya diundang untuk menyaksikan Raja Salman berpidato di gedung DPR, Kamis Siang. Tapi, pada kesempatan itu, Rizieq juga tak terlihat.
Ketua Gerakan Nasional Pengawal Fatwa Majelis Ulama Indonesia (GNPF MUI) Bachtiar Nasir mengungkapkan, Habib Rizieq tak datang ke DPR lantaran sakit.
Meski tak bisa bertatap muka maupun melihat sang raja, Habib Rizieq ternyata ikut mengomentari kedatangan Raja Salman ke Indonesia yang terbilang meriah tersebut.
Berikut pernyataan resmi Habib Rizieq terkait kedatangan Raja Salman :
“Saya senang dan bahagia dengan kedatangan Raja Salman bin Abdul Aziz Al Su’uud ke Indonesia. Saya lebih-lebih berbahagia karena penerimaan DPR dan Pemerintah RI yang sangat baik terhadap sang raja, melebihi sambutan kedatangan kepala negara lain.
Kebahagiaan saya lebih lagi bertambah karena sambutan dan antusiasme masyarakat Indonesia terhadap kedatangan sang raja Arab.
Kebahagiaan saya mencapai puncaknya tatkala Raja Salman menyampaikan komitmen untuk bekerja sama dengan Indonesia dalam semua bidang. Termasuk soal kemerdekaan Palestina dan tekad menebarkan Islam yang bersatu dan damai dalam keragaman mazhab di seluruh dunia.
Saya berharap, kedatangan Raja Salman bisa menjadi energi kebangkitan umat Islam di Indonesia maupun di dunia.
Semoga Indonesia dan Arab Saudi serta dunia Islam lainnya, ke depan, semakin akrab dan kompak untuk membangun peradaban Islam yang terhormat dan bermartabat serta berdaulat. Sekaligus selalu sigap dalam membela umat Islam di seluruh dunia, khususnya mereka yang tertindas seperti di Palestina, Yaman Suriah, Irak, Somalia, Afganistan, Kasmir, Iughur, Filipina, Thailand, dan Myanmar.
Semua ini sesuai dan sejalan dengan roh 212 Indonesia yang telah membangkitkan semangat persatuan dan kebersamaan umat Islam Indonesia, sekaligus telah menarik perhatian dunia Islam”.(dikutip dari suara.com)
Sungguh terlalu kalo kata H. Roma Irama, bagaimana mungkin RS ini bisa buat statement seperti itu, memposisikan diri setara dengan penguasa dunia. Sungguh sudah diluar batas dia, Lha RS itu apa kedudukannya di negara ini kok cocote ra umum blas. Seperti sudah lupa daratan ataukah dia lagi mengambang sampai lupa pada bumi yang ia pijak. Mau sampai kapan bermimpi sebagai orang yang paling penting di negeri ini bahkan presiden pun dilangkahi oleh nya. Terlalu…