Cari Blog Ini

Info-bendera-putih

Info-bendera-putih

Info-bendera-putih

Info-bendera-putih

Info-bendera-putih

Jumat, 10 Maret 2017

Habib Rizieq Tidak Mengenal Dirinya Sendiri?


Habib Rizieq Lupa Dirinya Sendiri?
Hari ini, udara lumayan panas, mungkin karena lembab. Namun suasana di luar sana tak selembab hati saya. Kenapa ‘lembab’. Itu lantaran saban hari pemberitaan di banyak media menyodorkan banyak kelucuan yang bikin hati berbunga, namun perut mual mules perih kembung.
Mulai dari cerita silat melawan begal. Tentang DP nol rupiah. Tentang sorga yang dikapling sebagian orang ‘suci’. Mengenai jenazah yang tak mau dimandikan sampai kepada masalah tawuran yang sebabnya disuruh tanyakan saja ke Pak Gubernur. Alamak…!
Kini, semakin bertambah kelucuan itu. Sehabis membaca berita ini, saya pastikan Anda akan terpingkal-pingkal: https://www.merdeka.com/peristiwa/rizieq-selalu-berkelit-dalam-kasus-logo-palu-arit-di-rupiah-baru.html Anda lalu kemudian disuguhi berita yang amat menggelitik urat-urat humor disekujur tubuh.
Sampai merinding saya ha ha ha. Lho kenapa sih? Ya iyalah. Habis siapa yang nggak bakalan tertawa membaca ada ‘orang besar’ yang mengaku-ngaku atau ‘dinobatkan’ sebagai Imam Besar namun dia lupa siapa dirinya. Nyalinya menjadi kecil.
Entah oleh karena  lagi puyeng sembilan keliling, atau karena kebanyakan minum obat tidur nggak ngerti juga saya. Atau bisa jadi ini akal-akalan dia saja supaya nggak dihukum Pak Polisi ya? Kalau benar seperti itu, mohon maaf, ia ini harus kita cap pemimpin cemen dan pengecut. Berani berbuat namun tak berani mengakui.
Ahok saja tempo hari, sehabis berpidato di Kepulauan Seribu, dihujat kiri kanan karena video editan itu, toh nggak pernah bilang bahwa bukan dirinya yang berpidato. Malah dia sendiri yang datang ke kantor polisi untuk meluruskan.
Ini kok malah yang menganggap diri paling mulia ahlaknya nggak berani bicara jujur?
Tau sendiri kan bahwa kasus dugaan logo palu arit dalam uang Rupiah baru masih dalam penyidikan Polda Metro Jaya. Namun katanya ada ganjelan githu lho. Ibarat lagi makan ikan enak-enak eh ada tulang mendadak ngeganjal di tenggorakan. Nggak enak banget tentunya.
Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Raden Prabowo Argo Yuwono mengatakan, mereka kesulitan menangani kasus ini lantaran Rizieq membantah selama penyidikan. Bahkan Rizieq selalu bilang bahwa video sebagai alat bukti itu bukan dirinya.
Gokil ya? Diri sendiri kok dia nggak inget? Saya sendiri nonton video, dengar suaranya, lihat wajahnya, nggak ada yang berubah tuh, tetap wajah dan suaranya dia itu. Pak Polisi juga ini pintar melucu kali ya, masak sih masih ragu-ragu kalau itu dia atau bukan.
“Masih sidik. Kalau misalnya orang ditanya ngaku ‘iya pak yang melakukan saya’ kan enak kita. Kalau ini mangkir (membantah) semua. Jadi kita kan harus buktikan. Itu bukan saya, itu mirip saya jadinya kita harus buktikan,” ini kata Pak Polisi Kombes Argo Yuwono.
Padahal, kata Argo, pihaknya telah menayangkan dan memperlihatkan video viral tersebut kepada Rizieq. Sehingga polisi kini tengah kerja keras mengusut kasus ini.
“Oh bukan itu mirip saya. Loh dia yang ngomong. Mirip saya. Ya kita jadi kan harus buktikan. Kita harus benar-benar cari saksi ahli untuk membuktikan video itu yang bersangkutan, gitu lho. Kalau ngaku kan enak,” masih kata Argo.
Atau Jangan-jangan Si Rizieq Lagi Sakit Kah?
Iya nih. Jangan-jangan dia mengidap  apa yang disebut  sebagai borderline personality disorder (BPD)? Kalo kurang paham penyakit jenis apa itu, Anda translate saja kutipan berikut ini, saya lelah soalnya: If you have borderline personality disorder (BPD), you probably feel like you’re on a rollercoaster—and not just with your emotions or relationships, but your sense of who you are. Your self-image, goals, and even your likes and dislikes may change frequently in ways that feel confusing and unclear. “
Atau, adakah kemungkinan ia mengidap penyakit Alzeimer? Ya, itu beda tipis dengan pikun akut. Tahap perkembangan gejala penyakit Alzheimer dibagi menjadi tiga, yaitu tahap awal, tahap pertengahan, dan tahap akhir. Pada tahap awal, gejala penyakit Alzheimer umumnya akan sulit dikenali karena kemungkinan penderita akan mengira penurunan daya ingat sebagai hal yang lumrah seiring efek perkembangan usia. Namun ketika gejala memasuki tahap lebih lanjut, dampak yang lebih signifikan akan mulai terlihat pada diri dan perilaku penderita.
Tingkat kecepatan berkembangnya gejala penyakit Alzheimer berbeda-beda pada tiap penderita, tapi umumnya gejala akan berkembang secara perlahan-lahan selama beberapa tahun.
Atau, kemungkinan lain ia mengidap apa yang disebut sebagai Dissociative Disorder?  Anda pusing kan? Dan ingin bertanya makanan jenis apa pula itu? Saya lebih pusing, nah silahkan cari sendiri penyakit atau kelainan apa itu. Cari di Google aja biar gampang. Masak mau disuapin terus.
Jadi, apa sebetulnya yang sementara dialami si Rizieq kalau hari ini dia bisa sampai tak mengenali dirinya sendiri? Entahlah….
Hanya dia sendiri yang bisa jawab, dan nantinya si Pak Polisi. Kita doain aja semoga beliau cepat sembuh dan disadarkan sepenuh-penuhnya.
Ingat kalimat ini sobat, “Orang yang memiliki pengetahuan tentang alam semesta, tetapi tidak mengenal dirinya sendiri sama saja dengan tidak tau apa-apa.”  Itu adalah kata-kata Jean De La Fontaine (tahun 1679). Cucok bukan? Mantap!
 

Kamis, 09 Maret 2017

Shamsi Ali: Toleransi Membuat Indonesia Tetap Utuh sampai Sekarang

Jabbar Ramdhani
Shamsi Ali: Toleransi Membuat Indonesia Tetap Utuh sampai Sekarang 
Foto: Jabbar Ramdhani

Shamsi mengatakan kehidupan toleransi di Indonesia terbangun cukup baik dan membanggakan. Kondisi ini tercipta karena kehidupan beragama jadi bagian dari sejarah masyarakat Indonesia.

"Saya katakan cukup toleran karena masyarakat Indonesia sejarahnya sangat toleran. Kehidupan beragama sudah jadi bagian dari sejarah itu sendiri," kata Shamsi di Masjid Raya Pondok Indah, Jalan Sultan Iskandar Muda, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan.
Shamsi menambahkan, sikap toleransi yang hidup di masyarakat ini menjadi kunci atas keutuhan Indonesia. Toleransi ibarat perekat dari aneka keberagaman yang juga ada di Indonesia.

"Dan saya kira, hal itu jugalah yang membuat negara Indonesia tetap utuh sampai sekarang. Padahal keragaman-keagamaan luar biasa, keragaman etnik, dan lain-lain. Tapi saya kira toleransi inilah yang membuat kita utuh sebagai NKRI," ujar pria asal Bulukumba, Sulawesi Selatan, ini.

Menurutnya, hadirnya toleransi ini adalah sebagai kekayaan yang dimiliki oleh bangsa Indonesia. Dan Shamsi, yang sudah hidup di AS selama 21 tahun, menyatakan kebanggaannya sebagai bangsa Indonesia.

Shamsi tidak menampik adanya kasus-kasus diskriminasi antara kelompok mayoritas dan minoritas atas dasar sentimen agama. Menurutnya, hal ini perlu diantisipasi agar tidak sampai menyebabkan terjadi perpecahan.

"Saya kira itu memang perlu diantisipasi. Jangan sampai kemudian sentimen agama itu memecah belah bangsa kita. Karena bagaimanapun, bangsa Indonesia ini, persatuan bangsa Indonesia adalah sesuatu yang sangat mahal. Oleh sebab itu, perlu kita jaga," tutur Shamsi, yang menjabat sebagai imam Islamic Center New York selama 2001-2012.

Namun, bila memang terjadi beda pendapat, Shamsi mengatakan harus disampaikan dengan cara yang tetap berdasarkan hukum yang berlaku. Ia memberikan contoh bagaimana kasus dugaan penodaan agama yang menjerat Gubernur DKI Jakarta nonaktif Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) karena pidatonya di Kepulauan Seribu.

"Mungkin kalau kita bicara tentang kejadian-kejadian terakhir, ketika ada kejadian ucapan dari Gubernur DKI nonaktif, Ahok, soal pidato di Kepulauan Seribu yang dianggap sebagai pelecehan dari para ulama. Lalu kemudian ada umat yang bereaksi. Saya kira reaksi itu adalah sangat menggambarkan sikap yang elegan, sikap yang demokratis," ujar Shamsi.

"Karena itu adalah protes yang dilakukan dalam batas-batas praktik demokrasi. Dengan jumlah yang sangat besar ini, tidak ada kerusakan-kerusakan, tidak ada pelecehan terhadap orang lain. Saya kira ini sejarah yang harus dibanggakan oleh bangsa ini," sambungnya.

Shamsi mengatakan sikap toleransi di Indonesia adalah sebuah jati diri bangsa yang harus dipertahankan. Hal ini sudah tumbuh jauh sebelum Indonesia merdeka.

Ia melihat bagaimana sejarah perkembangan masyarakat Indonesia, bagi kaum mayoritas selalu menjaga hak kelompok minoritas. Shamsi berharap, sejarah ini tetap disadari oleh bangsa Indonesia.

"Saya kira, siapa pun yang menjadi dominan di negara ini, yang harus kita kedepankan adalah toleransi. Oleh sebab itu, saya kira kita perlu pertahankan sejarah toleransi ini, sehingga masyarakat Indonesia tetap dikenang oleh masyarakat dunia sebagai bangsa yang toleran," tutur Shamsi.

"Jadi jangan sampai kita mengingkari sejarah. Bahwa siapa pun mayoritas, siapa pun minoritas, tidak pernah menurunkan sikap dan karakter toleransi kita dalam kehidupan," imbuhnya.
(jbr/nkn)
 

Toleransi sebagai Alat Pemersatu Bangsa

Toleransi sebagai alat pemersatu bangsa harus dipupuk secara terus menerus dan konsisten. Salah satu agenda besar dalam kehidupan berbangsa dan bernegara adalah menjaga persatuan dan kesatuan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Tantangan untuk mewujudkan kesatuan dan persatuan bangsa tersebut salah satunya adalah masalah kerukunan umat beragama dan kerukunan bangsa. Kerukunan intern beragama, kerukunan antar umat beragama, dan kerukunan antarumat beragama dengan pemerintah. Kerukunan itu bukan barang gratis. Ada penggalan sejarah kelam di mana kerukunan pernah terkoyak di negeri ini.
Toleransi sebagai Alat Pemersatu Bangsa

Bukan hanya harta benda yang hilang terbakar, tetapi berapa banyak nyawa manusia tak bersalah juga melayang sia-sia. Kita sebagai masyarakat terpelajar harus berperan serta secara aktif dalam menjaga keutuhan bangsa dan negara, menjaga keharmonisan dalam kehidupan bermasyarakat, berpartisipasi dalam menjaga kerukunan, di mana saja kita berada dan kapan saja waktunya.

Rasulullah Saw. bersabda dalam sebuah Hadis yang artinya: “Dari Anas ra. Sesungguhnya Rasulullah saw. bersabda, “Demi (Allah) yang jiwaku di tangan-Nya, tidaklah beriman seorang hamba sehingga dia mencintai tetangganya sebagaimana dia mencintai dirinya sendiri.” (HR. Bukhari Muslim)

Melalui hadis di atas, Rasulullah saw. mengajak kepada umat Islam untuk saling menghargai, saling menghormati, dan saling mencintai di antara sesama.

Akhir-akhir ini, nilai kerukunan yang dijaga dengan baik oleh masyarakat mulai terkikis, mengalami degradasi. Semboyan bhinneka tunggal ika sudah ada gejala mulai luntur dalam pemahaman dan pengamalan masyarakat.

Ini bisa dilihat berbagai konflik yang terjadi di berbagai daerah seperti kasus Poso, Ambon, Sampang yang mengatasnamakan agama. Konflik-konflik yang mengatasnamakan agama ini bahkan disinyalir telah mengancam terjadinya disintegrasi (perpecahan) dalam negara Indonesia.

Perhatikan peristiwa berikut ini!
  1. Tawuran antarpelajar menjadi trend bagi pelajar-pelajar sekarang. Seolah-olah tidak asyik kalau tidak tawuran. Sialnya, mereka yang terlibat langsung akan menjadi korban, ada yang korban fisik, ada yang harus masuk tahanan polisi, ada pula yang kemudian dikeluarkan dari sekolah. Bahkan, kepolisian sudah membuat kebijakan bagi pelajar-pelajar yang pernah terlibat tawuran akan diberi peringatan berupa dipersulit ketika mau membuat surat keterangan kelakuan baik (SKKB).
  2. Pengrusakan tempat-tempat ibadah, tawuran antarwarga, demonstrasi mahasiswa, dan berbagai macam tindakan kekerasan lainnya telah menggambarkan secara jelas pudarnya persatuan dan rasa toleransi. Apa yang kamu lakukan melihat kondisi seperti ini?
  3. Saat lebaran tiba, semua muslim bersahaja, bergembira menyambut Idul Fitri. Saling bersilaturrahmi dan saling memaafkan menjadi kebiasaan baik di setiap lebaran. Yang tua memaafkan yang muda, yang muda meminta maaf. Sungguh pemandangan yang perlu dilestarikan. Bagaimana tanggapanmu apabila suasana tersebut berlangsung setiap saat?
Cermati peristiwa di atas, kemudian berikan tanggapanmu dari beberapa sudut pandang (contoh dari sisi agama, sosial, budaya, dan sebagainya)!


Mari kita renungkan dan amati suasana kehidupan bangsa Indonesia. Kondisi bangsa Indonesia yang berbhinneka ini harus kita pertahankan demi ketenteraman dan kedamaian penduduknya. Salah satu cara mempertahankan kebhinnekaan ini adalah dengan toleransi atau saling menghargai.

Dalam kehidupan masyarakat Indonesia, kerukunan hidup antarsuku, ras, golongan dan agama harus selalu dijaga dan dibina. Kita tidak ingin bangsa Indonesia terpecah belah saling bermusuhan satu sama lain karena masalah di atas.

Berikut perilaku-perilaku toleransi yang harus dibina sesuai dengan ajaran Islam.
  1. Saling menghargai adanya perbedaan keyakinan. Kita tidak boleh memaksakan kehendak kepada orang lain agar mereka mengikuti keyakinan kita. Orang yang berkeyakinan lain pun tidak boleh memaksakan keyakinan kepada kita. Dengan memperlihatkan perilaku berakhlak mulia, insya Allah orang lain akan tertarik. Rasulullah saw. selalu memperlihatkan akhlak mulia kepada siapa pun termasuk musuh-musuhnya, banyak orang kafir yang tertarik kepada akhlak Rasulullah saw. lalu masuk Islam karena kemuliaannya.
  2. Saling menghargai adanya perbedaan pendapat. Manusia diciptakan dengan membawa perbedaan. Kita mencoba menghargai perbedaan tersebut.
  3. Belajar empati, yaitu merasakan apa yang dirasakan oleh orang lain, lalu bantulah orang yang membutuhkan. Sering terjadi tindak kekerasan disebabkan hilangnya rasa empati. Ketika mau mengganggu orang lain, harus sadar bahwa mengganggu itu akan menyakitkan, bagaimana kalau itu terjadi pada diri kita. Masih banyak lagi contoh perilaku toleransi yang harus kita miliki.


Dengan toleransi, yaitu sikap saling menghargai dan saling menghormati, akan terbina kehidupan yang rukun, tertib, dan damai.
 

Fenomena Kaum SCBD (Sesapian-Cingkrangan-Bumi Datar)

Jadi gini, SCBD yang ini bukanlah Sudirman Central Business District yaitu kawasan terkenal dan mewah ditengah jantung ibukota. SCBD disini adalah mereka yang sangat mengharubirukan dunia Indonesia. Mereka adalah kaum yang selalu komen nyinyir kepada pemerintah yang sedang sibuk membangun negeri.  Mereka jugalah yang setiap hari membuat keonaran dengan alasan agama. You know lah! Cikidap, cikidap youw. (Habis goyang dengan lagu hip-hop)
Jujur saya sendiri kurang tahu jelasnya mengenai sejarah tentang frase sesapian, cingkrangan, dan kaum bumi datar. Kapan mulai malang melintang didunia permediaan Indonesia. Kalau ada pembaca atau penulis lain yang bisa merangkumnya, akan sangat keren sekali. Karena akan menjadi salah satu bacaan yang sangat berguna bagi sejarah bangsa ini.
Kenapa berguna? Pastinya menjadi rujukan kepada siapa saja manusia yang ingin maju. Rujukan untuk apa? Pastinya rujukan untuk membedakan garis tapal batas antara kebaikan dan kejahatan. Antara hitam atau putih, antara mereka yang beraura postif atau negatif. Dan rujukan terakhir untuk memaklumi tingkah laku miring mereka dalam kehidupan kita. Jadi jangan marah sama mereka. Perhatikan saja baik-baik, pelan-pelan, serius, pelan-pelan lagi, maka anda akan tertawa sendiri setelahnya.
Loh kok bisa tertawa? Gak percaya. Ini bukti yang ter-update ya. Pada sidang Ahok hari ini, ahli hukum pidana penggugat menyatakan bahwa Ahok telah melukai agama. Korbannya adalah agama bukan orang. Mereka membela agama, bukan membela orang. Dulu katanya Ahok itu menghina Alquran, sekarang mengina agama.
Lantas pertanyaannya, yang melapor kepada pihak kepolisian itu agama atau orang? Yang terhina itu Alquran atau agama? Yang mereka bela itu agama atau orang? Yang hadir dalam sidang tadi siang itu agama atau orang? Ssssttttt. Jangan marah, nikmati saja. Kalau anda marah, tidak ada bedanya dengan mereka. Kalau mereka sumpek (sumbu pendek), kita jangan ikut-ikutan.
Mulai lihat kan isi kepala mereka?
 
Mulai bisa membayangkan apa yang dalam pikiran mereka?
Tebak saja sendiri.
Bagaimana menyikapi kaum ‘ini’
Jangan marah, jangan darah tinggi, jangan perang komen dalam medsos anda. Tidak akan berguna. Toh juga mereka tidak akan membayar pengobatan anda. Dalam beberapa tulisan saya mengenai hasil besar kerja pemerintah, penghinaan terhadap presiden, banyak kaum SCBD ini yang menyusup dan membalas komen dengan gambar Presiden yang diedit seperti gambar hewan.
Kawanku sebangsa dan setanah air, kita jangan terlalu ambil hati. Pelajarilah musuhmu lebih baik lagi. Lihat banyak penulis terkenal karena ulah kaum SCBD ini kan. Benar tidak? Inilah keuntungan dari kaum ini. Banyak ide melalui keberadaan mereka. Kaum SCBD menjadi trending topic dimana-mana. SCBD mendominasi pemberitaan disetiap hari. SCBD menjadi bahan yang enak untuk digoreng, renyah, krispy, dan maknyus. Pelajarilah ini dengan serius.
Dalam kaum Sesapian Cingkrang dan Kaum Bumi Datar ini berlaku aturan baku. Aturan ini tidak tertulis namun terekam pada kepala  mereka. Aturan ini seperti aturan pada waktu kita OSPEK dan aturan terhadap bos yang sedeng. Aturan itu berisi:
1. SCBD selalu benar
2. Bila SCBD salah, lihat aturan nomor 1
Aturan 1, Mereka selalu benar dengan mengatasnamakan agama. Dengan fakta dominasi agama, selalu dijadikan alasan pembenar untuk melakukan sesuatu. Mereka yang teriak Jokowi antek asing, antek China. Giliran Raja Arab datang, mereka tidak bilang Jokowi antek Arab. Sewaktu pemerintah berperang serius dengan freeport, mereka malah menyatakan harus menghormati freeport. Ahok yang melakukan penyerapan anggaran 60% tehadap APBD, dibilang korupsi dan tidak memikirkan kaum miskin. Jangan heran, karena mereka selalu benar.
Aturan 2, bila salah, lihat aturan nomor 1. Contohnya, Ri*** yang menyatakan tidak boleh menggunakan rekaman yang hanya berapa menit dalam kasus penghinaan pancasila olehnya. Sedangkan video editan Buni Yani juga dijadikan dasar laporan kaum SCBD ini. Salah kan? Balik kenomor 1. Misalkan lagi. Anis yang menyatakan jelas pada debat pilgub akan membuat program rumah tanpa DP. Dibantahnya sendiri setelah dia sadar, entah minum equil campur tuak dan makan sari roti feat saksang. Salah kan? Pasti, ingat, kembali ke pasal 1.
Simple kan hidup kaum SCBD ini. Jadi terhadap mereka, kita jangan heran. Mereka akan menggunakan segala cara untuk menggapai tujuan busuk mereka. Bahkan mereka akan menabrak akal sehat, menabrak logika, menabrak pemerintah, menabrak ulama yang lurus. Semua ditabrak, yang penting menang tidak peduli yang lain terhina dan sengsara.
Akhir kata, fenomena SCBD ini hanya setingan dari segelintir orang yang haus kekuasaan. Mereka akan bergerak dengan bahan bakar uang dan janji palsu kekuasaan. Kaum ini hanya pion, masih ada raja dibelakang sebagai think-thank. Kita jangan tertipu, perhatikan saja, pelan-pelan, lalu tertawa saja. Mereka akan buat banyak banyolan. Bumi mereka datar, bahkan terbalik, makanya sering logika mereka keliru.
Jangan kecewa dengan anak balita. Kalau kecewa, jangan-jangan balita lebih dewasa ketimbang kita.
Salam cerdas, salam waras.
 

Rabu, 08 Maret 2017

Setelah Ahok, Giliran Panglima TNI Dibenturkan dengan Jokowi

 
 
Kalau ada pepatah politik itu kejam, memang ada benarnya. Segala tipu daya dan cara-cara licik untuk menjatuhkan lawan dihalalkan. Tidak peduli isu yang digembar-gemborkan bagi yang memahami persoalan malah akan dijadikan bahan tertawaan.
Walaupun Pilpres 2019 masih berlangsung 2 tahun lagi, namun gorengan isu yang menerpa Jokowi terus digalakkan. Jokowi yang banyak diprediksi akan maju kembali mencalonkan diri dan sementara ini dianggap calon terkuat, harus mulai diruntuhkan lewat propaganda negatif. Dari isu Cinaisasi hingga komunis dilekatkan pada pemerintahnya. Hanya saja mereka yg teriak-teriak dengan isu tersebut menjadi mingkem saat Saudi Arab juga akan berinvestasi besar di Indonesia. Tidak ada tudingan Jokowi antek Saudi dan antek Wahabi.
Bukan hanya itu saja, keberadaan Ahok dengan kasus-kasusnya pun dikaitkan dengan orang nomer satu di Indonesia ini yang dipilih secara sah dalam Pilpres kemarin. Jokowi dianggap melindungi Ahok bahkan mengintervensi hukum untuk menyelamatkannya. Selain tudingan disuarakan, demo-demo berkelanjutan pun menyasar pada Presiden. Lucu.
Tudingan para penghuni bumi datar ini hanya untuk membentuk asumsi masyarakat bahwa Jokowi telah mengintervensi hukum dan terlalu membela Ahok. Namun apabila disuruh membuktikan tudingannya mereka akan gelagepan.
Jelas tujuan mereka selain menyasar Jokowi untuk kepentingan Pilpres mendatang, juga merenggangkan hubungan antara Jokowi dengan Ahok, orang yang dulu sempat bekerjasama ketika keduanya memimpin Jakarta. Sebagai sahabat yang tahu betul karakter Ahok adalah pekerja keras, jujur dan bersih, Jokowi pun tidak akan terpancing dengan isu-isu murahan tersebut. Manuver tetangga sebelah ini malah dibalas oleh Jokowi dengan mengajak Ahok meninjau proyek MRT dan naik mobil bersama untuk menunjukkan bahwa persahabtan mereka tidak terganggu dengan omongan kaum bumi datar. Akhirnya mereka tambah mewek lagi.
Setelah gagal memperalat Ahok sebagai pintu masuk mendiskreditkan Jokowi, isu baru ditiupkan lagi. Kali ini Panglima TNI yang akan dijadikan sasaran berikutnya.
Berusaha membenturkan Gatot Nurmantyo dengan Presiden lewat cara mengelu-elukannya dan bahkan digadang menjadi capres 2019 menjadi lawan Jokowi. Untungnya saja Panglima TNI ini tidak sebodoh yang mereka kira. Paham betul siasat licik yang digunakan agar hubungannya dengan Jokowi menjadi renggang.
Seperti diketahui, pengangkatan Panglima TNI sepenuhnya adalah hak prerogatif Presiden. Bila mengikuti tradisi sebelumnya yang dikenal istilah urut kacang, seharusnya jabatan tersebut jatuh ke sosok dari Angkatan Udara. Namun Jokowi lebih memilih Gatot Nurmantyo dari Angkatan Darat. Tentunya ini bukan tanpa alasan.
Jokowi percaya sepenuhnya dan paham betul karakter serta track rekord Gatot. Masukan-masukan dari berbagai pihak pastinya juga menjadi salah satu pertimbangan. Hal yang sulit dipercaya, orang yang sudah diberi jabatan setinggi itu akan membalas dengan air tuba. Sebagai anggota TNI yang sudah disumpah untuk taat dengan atasan, Gatot pun dipastikan hanya mengikuti komando dari atasannya. Masalah nantinya bila  sudah pensiun dan akan mencalonkan diri maju pemilihan Presiden. itu persoalan lain. Setiap warganegara berhak menduduki jabatan setinggi mungkin di negara ini bila memenuhi persyaratan dan dijamin Undang-Undang.
Jadi jelas selama Gatot masih aktif menjabat sebagai Panglima TNI, kesetiaannya pada Presiden tidak perlu diragukan lagi. Isu-isu pencalonan dirinya di Pilpres mendatang selain prematur dan hanya bertujuan agar hubungan antara Presiden dan Panglima TNI renggang, ini juga hanya sebatas rumor baru yang tidak jauh berbeda dengan peristiwa-peristiwa yang terkait Ahok. Memiliki tujuan sama. Agar Jokowi menjauhi Gatot dan bahkan memecatnya seperti yang dilakukan pada mantan menteri yang dicukupkan karena dicurigai memiliki agenda lain untuk kepentingan pribadi.
Tidak berbeda dengan isu terkait Ahok. Masalah rumor tentang Gatot inipun tidak menganggu Jokowi apalagi membuat renggang hubungan keduanya. Bahkan dijawab dengan tegas bahwa tidak akan menggantinya sebagai Palnglima TNI. Akhirnya kembali kaum bumi datar mewek lagi. Dagangannya tidak laku dijual.
Kita bisa lihat saja nanti apabila Gatot Nurmantyo sudah memasuki masa pensiun, rumor ini akan hilang sendiri. Tidak akan ada lagi isu-isu pencalonan dirinya apalagi ada partai yang mau mengusungnya. Keberadaan Gatot Nurmantyo yang sudah tidak menjabat Panglima TNI tidak bisa dimanfaatkan lagi untuk membuat kegaduhan di pemerintahan.
Gatot sendiri bukanlah sosok ambisius akan jabatan dan menyadari bahwa saat ini hanya dijadikan alat membenturkan dirinya dengan Presiden oleh kaum penghuni bumi datar. Sebagai perwira tinggi yang memiliki otak cerdas, cara yang dilakukan oleh mereka hanya akan dijadikan bahan tertawaan saja.
Walau sama-sama berasal dari militer, berbeda dengan pak mantan yang dulu menjadi salah satu pembantu Megawati di kabinetnya. Pak mantan memilih mundur lalu mencalonkan diri di Pemilihan Presiden. Hanya saja persiapan matang sudah dilakukan jauh sebelumnya dengan membentuk partai politik sebagai kendaraan pencalonan dirinya. Gatot Nurmantyo tidak melakukan itu, karena kepastian akan terjun ke dunia politik setelah menjalani masa pensiun nanti masih menjadi tanda tanya.
 

Ahok “Penista” Agama Islam Melayani Umat Islam, Tapi Ustad Ini Kok…?

 
 
Sungguh ironi melihat kejadian-kejadian yang terjadi akhir-akhir ini di Republik Indonesia tercinta ini, mungkin saatnya kita merenungi pesan-pesan penting yang bisa kita ambil bersama untuk kebaikan masa depan republik.
Kawan-kawan, hari ini seorang Ahok telah menjadi tersangka atas tuduhan penistaan agama Islam melalui video pidatonya di kepulauan seribu, tepatnya pada kasus video Almaidah 51 yang diangkat setelah mendekati Pilkada DKI Jakarta.
Lalu apa yang terjadi setelah Ahok didemo dan ditekan dengan tuduhan itu lalu menjadi tersangka? Apakah dia berhenti melayani umat Islam? Sepertinya tidak sama sekali.
Baru-baru ini, ada beberapa  orang yang dibantu oleh pak Ahok, salah satunya ibu-ibu yang sakit kanker serviks yang sudah 2 bulan tidak dioperasi oleh pihak Rumah Sakit Pelni dan Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), beliaupun mengurus ibu-ibu tersebut dengan cepat melalui stafnya, agar dibawa menjalani operasi ke Rumah Sakit Tarakan.
Pada tanggal 4 Maret 2017, Ahok juga mengunjungi lokasi Kawasan Maqam Habib Hasan (Mbah Priok), kunjungannya adalah merupakan kunjungan tugas, sekaligus untuk membuktikan keseriusannya dalam mengurus makam Mbah Priok menjadi kawasan cagar budaya. Dihadapan para murid-murid dan pewaris Mbah Priok, Ahok membacakan SK Gubernur DKI Jakarta Nomor 438 Tahun 17 tentang Penetapan Kawasan Maqam Habib Hasan (Mbah Priok) sebagai lokasi yang dilindungi dan diperlakukan sebagai situs cagar budaya. Beliau juga berjanji bahwa makam tersebut tidak akan dialih fungsikan menjadi kawasan industri, janjinya itu akan diwujudkan dengan pemberian sertifikat dikemudian hari.
Tanggal 6 Maret 2017, Ahok juga meninjau pembangunan Mesjid Raya Jakarta di kawasan Daan Mogot, Jakarta Barat, kali ini ditemani Ketua PKB DKI Jakarta. Dalam kunjungannya, Ahok berharap agar pembangunan masjid yang berdiri di atas tanah seluas 2,4 hektare sekaligus mampu menampung 12 ribu jemaah ini segera cepat diselesaikan, agar supaya pada saat peresmian kedepannya tidak ada kekurangan.
Masih banyak lagi yang telah dilakukan pak Ahok terkhusus untuk umat beragama Islam, dalam pengamatan saya, beliau tak pernah tebang pilih dalam hal melayani masyarakat, bahkan saat dia dituduh menista agama Islam sekalipun! niatnya untuk membantu semua masyarakat dengan adil tak juga surut. Beberapa contoh diatas yang saya ambil adalah kegiatan Ahok setelah ditetapkan sebagai tersangka penistaan agama Islam yang pada saat ini telah bergulir persidangan ke 13.
Dipihak yang berbeda, beberapa orang yang sangat getol menginginkan Ahok dipenjara dengan alasan membela agama Islam malah kita lihat sama-sama telah berlaku tidak adil dan diskriminatif terhadap warga Islam yang memilih dan mendukung pak Ahok, salah satunya dengan cara tidak akan disalatkan ketika ada dari mereka (pendukung Ahok) yang meninggal dunia.
Anda bisa melihat bukti-bukti ujaran dan himbauan diskriminatif itu melalui spanduk-spandu yang terpampang di depan 8 masjid yang berada di kawasan Setiabudi, Jakarta Pusat. Mereka menganggap orang yang munafik (pemilih Ahok) tidak perlu disalatkan sesuai dengan perintah Al-Quran.
Hal ini tidak semata-mata tertulis di spanduk-spanduk yang dipampang di depan mesjid, tetapi juga, seorang Ustad Tengku Zulkarnain melalui status akun twitter‏ @UstadTengku menuliskan “Saya memerintahkan semua murid saya dimanapun berada HARAM hkmnya mensholatkan/melaksanakan FARDHU Khifayah atas pendukung PENISTA AGAMA”.
Tentu hal ini tidak adil bagi mereka para pendukung Ahok yang beragama Islam. Ada apa dibalik himbauan Ustad sekaliber Tengku Zulkarnain? Sungguh tragis negeri ini.
Sekarang, anda yang mengambil kesimpulan, mana yang lebih pantas untuk dijdikan panutan? Yang dituduh menista agama Islam tetapi melayani umat Islam dengan segala daya dan upayanya ditengah statusnya sebagai tersangka, dan atau mendukung orang yang berjubah agama Islam tetapi tidak melayani umat Islam?
Mudah-mudahan hal ini bisa membuka mata dan hati kita semua dalam menentukan pilihan yang paling tepat.
 

Senin, 06 Maret 2017

Raja Salman Datang, Gerombolan Anti Jokowi Harusnya Segera Insaf



Kedatangan raja Arab Saudi, Raja Salman bin Abdul Azis, yang sangat dihormati umat Islam seluruh dunia, ke tanah Indonesia nampaknya cukup membuat pemerintah RI kerepotan. Tapi nggak masalah, kerepotan tersebut  sama dengan repotnya orang tua saat menyelenggarakan resepsi pernikahan anaknya yang meskipun melelahkan dan menghabiskan banyak biaya, semua dijalani dengan senang hati dan penuh kegembiraan.
Melalui informasi dari berbagai media, pemerintah terlihat nampak menikmati setiap proses tersebut. Itu terjadi karena pemerintah kita yakin, bahwa kelelahan Paskhas TNI AU dan pasukan Khusus lainnya mengamankan bandara, kesibukan Korp Lalu Lintas POLRI merekayasa arus lalu lintas dan beragam kesibukan lainnya akan sepadan dengan hasil yang nanti akan diperoleh Republik Indonesia, di mana kemungkinan besar juga akan dinikmati oleh anak bangsa Indonesia ini. Cepat atau lambat, kerepotan tersebut akan turut berperan serta menuntun jalan bagi masa depan bangsa Indonesia.
Itu adalah target jangka panjang, sedangkan keuntungan jangka pendeknya-salah satunya- bagi Indonesia terutama Bali yakni langsung menerima uang dari Raja Salman beserta rombongan.
Di luar itu semua, saya juga berharap kedatangan Raja Salman akan membawa pengaruh positif bagi kelompok anti Presiden Jokowi terutama yang kerap menyalahkan langkah Jokowi. Saya berharap mereka akan segera insaf dari perbuatan. Misalnya ketika Presiden dirisak oleh mereka saat Presiden menunaikan ibadah Salat dengan tetap mengenakan kaus kaki. Nyatanya, Raja Salman justru “menantang” mereka untuk juga merisaknya sebagaimana mereka merisak Presiden. Raja Salman menunaikan salat bukan hanya mengenakan kaus kaki, melainkan lebih dari itu, mengenakan sepatu. Dan sampai sekarang belum terdengar suara yang berani merisak Raja Salman sekeras ketika merisak seorang Presiden.
Untuk itulah sebaiknya kelompok Anti Jokowi segera Insaf karena segala fitnah dan celaan yang mereka lontarkan pada presiden hanyalah fitnah penuh kedengkian. Raja Salman telah menunjukkan pada rakyat Indonesia bahwa tidak ada yang salah dengan apa yang dilakukan Presiden. Raja Salman telah menunjukkan bahwa boleh saja salat pakai kaus kaki, bahkan pakai sepatu pun boleh.
Semua itu membuat kelompok Anti Jokowi mendadak senyap berjamaah. Mereka tidak menduga bahwa Kedatangan Raja Salman justru mengKO kelompok Anti Jokowi.
Banyak peristiwa yang menunjukkan bahwa Raja Salman telah mematahkan kebohongan-kebohongan yang disebarkan oleh kelompok Anti Jokowi. Ini adalah kegembiraan bagi para pecinta negeri, paling tidak kita bisa senyum-senyum menyaksikan kelompok Anti Jokowi hanya bisa mengumpat dalam hati menyaksikan kenyataan takdir yang tidak berpihak pada mereka.
Di bawah ini merupakan beberapa langkah yang dilakukan pemerintah yang dianggap salah oleh kelompok anti Jokowi, namun justru dilakukan oleh Raja Salman.
Pemerintah Jokowi bekerja sama dengan  Cina, otomatis Membuat RI Ketularan Komunis
Inilah isu yang digemari kelompok  Anti Jokowi. Karena kerjasama dengan Tiongkok, mereka menuduh Jokowi itu antek Tiongkok. Lalu karena Tiongkok itu komunis maka otomatis, Negara Pancasila ini tiba-tiba ketularan menjadi negara komunis.
Fitnah itu tentu saja itu tidak masuk akal. Masak iya, gara-gara beli HP China, pemiliknya otomatis menjadi Komunis.
Meskipun demikian, mereka tetap saja akan terus memfitnah pemerintahan Jokowi telah ketularan ideologi komunis Tiongkok. Karena memang hanya itu yang bisa mereka lakukan memfitnah dan memfitnah.
Nah, berbarengan dengan kedatangan Raja Arab, tersiar kabar, bukan hanya Republik Indonesia yang bekerja sama dengan Tiongkok, melainkan Kerajaan Islam Arab Saudi juga melakukan hal yang sama. pada tahun 2015, Kerajaan Arab Saudi juga bekerja sama dengan Tiongkok. Bahkan, Tiongkok tercatat sebagai mitra dagang terbesar Arab Saudi dengan nilai mencapai US$ 51,83 miliar atau setara dengan 712 Triliun Rupiah.
Sementara itu, nilai perdagangan antara Arab Saudi dan Indonesia jauh di bawah Arab Saudi dan Tiongkok, yakni masih di bawah 10 miliar dollar Amerika serikat.
Kenyataan ini tentu membuat gerombolan Anti Jokowi megap-megap, bagaimana mungkin Kerajaan Islam Arab Saudi bekerja sama dengan Tiongkok yang komunis.
Mereka seharusnya curiga, jangan-jangan Arab Saudi juga ketularan Komunis.
Apakah Arab Saudi otomatis menjadi komunis ? Silakan gerombolan Anti Jokowi, cari bukti di Arab Saudi sana.
Informasi ini seharusnya membuat mereka segera insaf dan menghentikan fitnah komunis terhadap Jokowi, namun saya tidak yakin, sebab kesombongan mereka telah membutakan mata hati untuk melihat kebenaran.
Densus 88 itu Anti Islam ?
Detasemen khusus 88 (Densus 88) merupakan satuan khusus POLRI untuk penanggulangan terorisme di Indonesia. Dalam aksinya, anggota Densus terpaksa melakukan penyergapan dan penyerangan bersenjata terhadap mereka yang diduga terlibat terorisme yang berupaya untuk menggerogoti keamanan di Republik Indonesia.
Para terduga teroris tersebut ada yang ditangkap hidup-hidup, namun tak jarang ada juga yang terpaksa dilumpuhkan dengan senjata. Dalam kesehariannya, para terduga teroris tersebut kerap berpenampilan menyerupai agama tertentu, mereka bertindak seperti tokoh agama. Akibatnya, stigma yang muncul di kalangan gerombolan Anti Jokowi, Densus 88 dituduh memusuhi umat beragama Islam.
Meskipun berusaha keras menjelaskan, bahwa yang dimusuhi Densus 88 itu bukan Islam, melainkan oknum teroris. Akan tetapi percuma saja, gerombolan Anti Jokowi tetap keukeuh meyakini bahwa Densus 88 itu menzalimi umat Islam.
Mungkin atas alasan itulah, Raja Salman terpaksa harus turun tangan membantu Densus 88 menjelaskan kepada umat Islam Indonesia bahwa Densus 88 itu sama sekali tidak anti terhadap Islam. Caranya adalah dengan memberikan hadiah naik haji gratis bagi keluarga Densus 88 yang terluka hingga tewas saat bertugas. 
Arab Saudi bahkan menganggap bahwa anggota Densus 88 yang meninggal dunia itu dianggap syuhada.  Kabar ini pastinya sangat menggembirakan anggota Densus 88, mereka bisa lebih bersemangat untuk berjihad. Sayangnya, di seberang sana, orang-orang yang tergabung dalam kelompok Anti Jokowi terpaksa gigit jari, karena bahan fitnah anti Islam yang sering mereka lontarkan Densus 88 sudah tidak berlaku lagi.
Dan satu lagi kabar yang menyesakkan dada mereka, KAPOLRI baru saja menerima pedang emas dari Raja Arab Saudi. Pedang tersebut merupakan simbol agar Republik Indonesia dan Arab Saudi bisa saling menjaga keamanan dan pertahanan negara. Ini seolah merupakan harapan dari kerajaan Arab Saudi agar POLRI tidak ragu dalam menegakkan hukum terhadap para pelanggar hukum termasuk ormas radikal.
Dua hal tersebut di atas menambah lagi kabar buruk bagi gerombolan Anti Jokowi. Mau tidak mau, untuk sementara mereka terpaksa tiarap dulu, menunggu Raja Salman kembali ke Arab Saudi. Setelah Raja Salman kembali ke Arab Saudi, mudah-mudahan mereka segera insaf dan tobat.